spot_imgspot_img
Selasa 2 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pesan Mendalam Sultan Kacirebonan IX untuk Tasikmalaya

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Suasana di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar) pada Senin (1/6/2026) kemarin  terasa berbeda dari biasanya. Hangat, khidmat dan sarat akan nilai budaya.

Hari itu, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat, Sultan Keraton Kacirebonan ke-IX melakukan kunjungan silaturahmi yang membawa misi besar. Yakni, merajut kembali sejarah yang berserak dan memperkuat akar spiritual tatar Sunda.

BACA JUGA:

Hari Terakhir Jadi Plh Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Terima Kehormatan dari Sultan Kacirebonan

​Kedatangan rombongan agung dari Cirebon ini di sambut langsung Bupati Tasikmalaya bersama Plh Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara.

Pertemuan trsebut menjadi awal dari rangkaian agenda satu hari penuh Sultan di bumi Sukapura.

​Menapaki 4 Titik Epik di Tasikmalaya

​Sultan Kacirebonan mengunjungi empat destinasi penting yang memiliki nilai historis, spiritual dan budaya yang kuat di Tasikmalaya:

Pendopo Kabupaten: titik awal penyambutan resmi dan dialog budaya.

Gunung Galunggung: Destinasi penuh memori dan ikatan batin.

​Kampung Naga: Simbol kelestarian adat dan tradisi Sunda yang autentik.

​Pamijahan: Pusat wisata religi yang menjadi penutup rangkaian kunjungan.

​Ikatan Batin dengan Galunggung dan Filosofi Kampung Naga

​Ada alasan emosional mengapa Gunung Galunggung masuk dalam daftar wajib kunjungan Sultan.

Menurut Ketua Forum Ajengan Tajug, Munawir Soleh, Sultan memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan ikon Tasikmalaya tersebut.

​”Beliau pernah bermalam di Galunggung sebelum peristiwa meletus. Ada ikatan batin yang mendalam antara Sultan dengan tempat ini,” ungkap Munawir.

​Sementara itu, di pilihnya Kampung Naga di dasari oleh semangat yang sama dalam menjaga warisan leluhur.

Sebagai permukiman adat yang konsisten menolak modernisasi ekstrem demi menjaga tradisi, Kampung Naga di pandang sejalan dengan misi pelestarian budaya yang di usung oleh Kesultanan Cirebon.

“Nitip Tajug dan Fakir Miskin”

​Lebih dari sekadar napak tilas, kunjungan ini melahirkan sebuah amanat penting bagi para pemimpin daerah. Melalui Munawir Soleh, Sultan menitipkan dua frasa kunci yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat. Yakni, “Nitip Tajug dan fakir miskin.”

BACA JUGA:

Kota Tasikmalaya jadi Tuan Rumah Peringatan Harkopnas 2026?

​Tajug (Musala/Surau) merupakan simbol pusat spiritualitas masyarakat Sunda. Menjaga tajug berarti merawat moral, mental dan fondasi agama generasi muda.

​Fakir Miskin: Sebuah refleksi kemanusiaan universal. Pembangunan daerah tidak boleh hanya fokus pada infrastruktur fisik. Namun wajib menyentuh kesejahteraan sosial.

​Amanat ini langsung menemukan gaungnya di lapangan. Di sela kunjungan, Sultan berkesempatan bertemu dengan Endang Abdul Malik, tokoh masyarakat yang di kenal konsisten menggerakkan program “Jumat Berkah” dengan membagikan 1.500 paket sembako setiap pekan.

Pertemuan ini seolah menjadi bukti nyata bahwa pesan Sultan bukan sekadar wacana, melainkan gerakan yang sudah dan harus terus di hidupkan.

​Meluruskan Sejarah Tasikmalaya Tanpa Otot

​Apresiasi tinggi datang dari Plh Wali Kota Tasikmalaya. Bagi Dicky Candra, momentum kehadiran Sultan Kacirebonan IX adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali historiografi lokal.

Dia menyoroti pentingnya pelurusan sejarah Tasikmalaya agar tidak terjadi simpang siur di masa depan.

​”Perbedaan pandangan tentang sejarah dan budaya harus di selesaikan dengan bijak. Tujuannya agar anak cucu kita kelak mengenal sejarah Tasikmalaya yang sebenarnya,” tegas Dia.

Dicky menambahkan, sejarah ada untuk di pahami, bukan di pertentangkan. Jalan keluarnya adalah dengan membuka ruang dialog yang sehat (ma’ruf) antara tokoh adat, sejarawan dan budayawan tanpa melibatkan ego emosional.

​Jembatan Budaya Cirebon-Tasikmalaya

​Awal mula kunjungan historis ini di ceritakan oleh Afan Sopandi dari Forum Ajengan Tajug. Tiga minggu sebelumnya, pihaknya sempat bertamu ke Kesultanan Cirebon.  Di mana Sultan mengutarakan keinginannya untuk melihat langsung eksotisme budaya Kampung Naga.

BACA JUGA:

Hari Lahir Pancasila di Tasikmalaya, Dicky Candra Ajak Warga Lawan Intoleransi

Gayung bersambut, Pemkab Tasikmalaya merespons rencana tersebut dengan tangan terbuka.

​Kini, riuh hangat sambutan warga di sepanjang rute perjalanan dari Pendopo menuju Galunggung menjadi bukti bhawa di tengah gempuran zaman digital, jembatan silaturahmi budaya tetap menjadi perekat paling ampuh bagi masyarakat.

Kunjungan Sultan Kacirebonan IX ini meninggalkan warisan berharga. Membangun daerah adalah tentang menyeimbangkan kemajuan zaman dengan kedalaman spiritual serta kemanusiaan.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru