spot_imgspot_img
Kamis 28 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

“Singa Limbangan” Pemberi Mandat Perjuangan CDOB Garut Utara

GARUT, FOKUSJabar.id: Pimpinan Pondok Pesantren As-Sa’adah Limbangan, KH Amin Muhyiddin Maolani (Den Amin) mengatakan, Garut Utara (Gatra) bukan wilayah yang lahir tanpa sejarah.

Sejak masa Tatar Sunda hingga perjalanan pemerintahan modern, Garut Utara memiliki jejak panjang dalam perkembangan peradaban, pemerintahan, sosial kemasyarakatan dan perjalanan sejarah wilayah Priangan.

Dalam lintasan sejarah tersebut, Limbangan memiliki kedudukan penting sebagai kawasan yang sejak masa lampau menjadi bagian dari pusat dinamika kehidupan masyarakat Sunda.

BACA JUGA:

Arti dan Makna Filosofis Logo PM Gatra

Dalam berbagai kesempatan perjuangan, ulama kharismatik tersebut kerap mengingatkan bahwa perjuangan Garut Utara tidak dapat di lepaskan dari akar sejarahnya.

Masyarakat Garut Utara harus memahami sejarah daerahnya sendiri agar memiliki arah perjuangan yang kokoh serta tidak kehilangan identitas.

Menurutnya, perjalanan Kabupaten Garut hari ini memiliki keterkaitan sejarah yang kuat dengan perjalanan Kabupaten Limbangan pada masa lampau.

Dalam dinamika sejarah pemerintahan kolonial, Kabupaten Limbangan pernah mengalami fase perubahan besar.

Tahun 1811, Kabupaten Limbangan mengalami pembubaran. Kemudian pada 16 Februari 1813, pemerintahan Kabupaten Limbangan kembali di bentuk dan berkembang dalam perjalanan sejarah berikutnya hingga pusat pemerintahan bergeser dan berkembang menjadi Kabupaten Garut.

“Sejarah tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Sejarah menjadi pelajaran penting bahwa suatu wilayah dapat tumbuh, berkembang, berpindah pusat pertumbuhan. Bahkan mengalami perubahan posisi strategis akibat kebijakan pemerintahan dan arah pembangunan,” ungkap Dia.

Den Amin memandang bahwa kawasan utara Garut yang dahulu memiliki posisi penting dalam sejarah harus kembali memperoleh ruang pertumbuhan yang memadai.

Bukan untuk membangkitkan romantisme masa lalu, tetapi menghadirkan kembali semangat besar masa lampau sebagai energi membangun masa depan.

BACA JUGA:

Paradigma Baru Fase Akhir Perjuangan CDOB Garut Utara

Dari pemikiran sejarah itulah lahir salah satu landasan filosofis perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara.

Dia menyebut, pemekaran bukan sekadar pembentukan wilayah administratif baru. Pemekaran merupakan jalan perjuangan untuk mempercepat pembangunan, mendekatkan pelayanan publik, memperkuat potensi sumber daya wilayah sekaligus menjadi ikhtiar mengembalikan marwah dan kejayaan kawasan utara Garut yang memiliki akar sejarah panjang.

Pandangan tersebut tersirat dalam visi luhur perjuangan. Yakni, “Limbangan Ngadaun Ngora.”

Bagi Dia, kalimat tersebut bukan sekadar semboyan perjuangan. “Ngadaun Ngora” di maknai sebagai tumbuh, bangkit serta berkembang kembali tanpa tercerabut dari akar sejarah dan jati dirinya.

Limbangan harus kembali tumbuh melalui pembangunan, pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik yang lebih dekat, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kemajuan wilayah yang berkeadilan.

“Pemekaran bukan sekadar perjuangan wilayah. Tetapi perjuangan peradaban, perjuangan sejarah, perjuangan mengembalikan marwah dan perjuangan menghadirkan kembali semangat besar masa lalu untuk membangun masa depan,” tegas Den Amin.

Pada fase awal perjuangan pembentukan Kabupaten Garut Utara, tempat tinggalnya menjadi salah satu pusat konsolidasi penting perjuangan.

Para ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, akademisi dan berbagai elemen masyarakat Garut Utara berkumpul menyatukan gagasan serta membangun langkah perjuangan.

Pada masa itu, perjuangan tidak berjalan mudah. Masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep pemekaran daerah. Bahkan muncul pandangan negatif yang menganggap perjuangan pembentukan daerah baru sebagai bentuk pemisahan diri dari Kabupaten Garut.

Di tengah kondisi tersebut, Amin Muhyiddin berdiri di barisan depan memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Dia menyebut, perjuangan pembentukan Kabupaten Garut Utara merupakan perjuangan konstitusional untuk menghadirkan pemerataan pembangunan dan masa depan yang lebih baik.

Den Amin juga tidak hanya menyampaikan gagasan di rumah atau ruang rapat perjuangan. Dia membawa gagasan perjuangan tersebut ke berbagai majelis taklim, panggung pengajian, forum masyarakat hingga forum besar di hadapan para pejabat Kabupaten Garut maupun Jawa Barat.

Momentum besar perjuangan hadir pada 18 Februari 2012. Melalui Deklarasi Pembentukan Kabupaten Garut Utara. Amin Muhyiddin menjadi salah satu tokoh sentral yang turut menggerakkan kekuatan masyarakat dengan dukungan para ulama, santri dan masyarakat dalam jumlah besar.

BACA JUGA:

Bupati Garut Lepas 32 Kontingen Persigar

Perjuangan kemudian berlanjut pada 12 Juli 2012, ketika para tokoh perjuangan menyerahkan usulan pembentukan Kabupaten Garut Utara kepada DPRD sebagai tahapan formal perjuangan.

Perjalanan panjang tersebut memasuki fase penting pada 1 Juni 2020. Melalui sidang paripurna persetujuan bersama antara Pemda dan DPRD Kabupaten Garut dalam tahapan perjuangan CDOB Kabupaten Garut Utara.

Pascadeklarasi, Den Amin terus membersamai perjuangan sebagai Ketua Dewan Penasihat Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra).

Bersama Adang Hambali, Usep Romli, Didin Umarzen dan para tokoh penggagas/pemrakarsa perjuangan lainnya, Dia memberikan mandat perjuangan kepada Holil Aksan Umarzen untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum PM Gatra.

Selain itu, menugaskan untuk menjaga, mengawal serta melanjutkan perjuangan pembentukan Kabupaten Garut Utara hingga terwujud.

Mandat tersebut bukan sekadar amanah organisasi. Tetapi amanah sejarah, perjuangan dan amanah menjaga cita-cita besar masyarakat Garut Utara lintas generasi.

Di tengah pengabdiannya kepada masyarakat, Dia juga mengemban amanah besar keumatan sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Garut dan Ketua MUI Kabupaten Garut.

Keteguhan sikap, keberanian, keteladanan serta kesetiaannya menjaga cita-cita perjuangan menjadikan Dia di kenang sebagai “Singa Limbangan.”

“Jejak perjuangan akan di kenang dan keteladanan akan tetap hidup sepanjang zaman,” pungkasnya.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru