PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Aroma manis gula yang baru di goreng menyeruak kuat dari sebuah dapur sederhana di Burujul, Desa/Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar).
Di dalam bangunan tua itu, puluhan ibu-ibu bekerja lincah mengaduk, mencetak hingga mengemas camilan berwarna kecokelatan.
BACA JUGA:
Polres Pangandaran Selidiki Kebakaran Restoran Pamugaran Lounge
Itulah dapur milik Juju (48), perempuan yang 25 tahun terakhir menjaga nyala tungku usaha camilan legendaris “Noga Bu Amah” (NBA).
Setiap hari, Juju di bantu 40 karyawan yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga. Usia mereka pun beragam, bahkan ada yang sudah menginjak 70 tahun.
Bagi Juju, kehadiran mereka bukan hanya tenaga kerja. Namun bagian dari keluarga besar Noga Bu Amah.
“Ini jadi berkah buat mereka. Bisa nambah penghasilan buat ibu-ibu rumah tangga di sini,” ujar Juju saat di temui di dapur produksinya, Minggu (24/5/2026).
Ke-40 karyawan itu membantu memproduksi noga dalam dua varian rasa (Wijen dan Kacang). Prosesnya masih tradisional, di warisi langsung dari sang ibu, Amah yang merintis usaha ini 30 tahun lalu.
“Usaha ini warisan dari orang tua saya. Dari awal saya lihat ibu yang bikin. Lalu saya lanjutkan sampai sekarang,” kata Juju.
Meski sudah puluhan tahun berjalan, Juju menjaga betul konsistensi rasa dan bentuk noga. Resep, cara mengaduk gula hingga waktu pemasakan tidak pernah di ubah. Saat ini satu bungkus Noga Bu Amah di jual dengan harga Rp14 ribu.
Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Juju mengaku dulu hanya mampu mengirim sekitar 10 bungkus ke satu toko. Namun perlahan, pelanggan bertambah karena kualitas produk terus di jaga.
BACA JUGA:
Dalam Sebulan 1.054 Warga Pangandaran jadi Akseptor Baru
“Awalnya dari satu toko ke toko lain paling kirim 10 bungkus. Kerja sama dengan pelanggan di rawat. Dulu juga pernah punya anak buah yang bikin sendiri, otomatis pasar langganan ada yang di ambil. Tapi alhamdulillah kita tetap jaga kualitas,” ujarnya.
Konsistensi itulah yang membuat Noga Bu Amah kini di kenal luas. Pesanan datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Batam. Banyak pembeli yang sengaja menitipkan noga sebagai oleh-oleh khas Pangandaran.
Bagi Juju, noga bukan sekadar camilan. Cemilan ini adalah pengikat kenangan, sumber penghidupan dan ruang bagi ibu-ibu untuk tetap produktif meski usianya tak lagi muda.
“Dulu ibu yang mulai, sekarang saya yang jaga. Mudah-mudahan nanti bisa di teruskan lagi,” ujarnya.
Dari dapur tua di Padaherang, aroma manis Noga Bu Amah terus menyebar, membawa cerita warisan tiga dekade yang tidak pernah padam.
(Sajidin)



