BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung bergerak cepat menyiapkan skema khusus penanganan sampah demi mengantisipasi lonjakan volume sampah saat euforia konvoi kemenangan Persib Bandung. Rencananya, perayaan massal tersebut akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Minggu hingga Selasa (23–25 Mei 2026).
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, membeberkan bahwa langkah taktis ini merupakan tindak lanjut atas evaluasi langsung dari Wali Kota Bandung terkait manajemen kebersihan pada laga Persib melawan PSM sebelumnya.
Baca Juga: 500 Siswa SMAN 20 Bandung ‘No Nikotin No Ribet’
“Pak wali memberikan koreksi sangat detail terhadap penanganan sampah kemarin. Dinilai masih kurang masif dan kurang terkoordinasi optimal, jadi kami akan menjalankan SOP seperti saat kirab budaya,” kata Darto saat memberikan keterangan di Balai Kota Bandung, Kamis (21/5/2026).
Untuk meminimalkan penumpukan, DLH bakal menerapkan sistem penyapuan bergerak (mobile sweeping). Melalui pola ini, pasukan oranye akan bersiaga di barisan paling belakang. Mereka akan menyisir jalur konvoi tepat setelah arus massa Bobotoh melintas. Strategi ini mengadopsi kesuksesan pembersihan pada kirab budaya Milangkala Tatar Sunda beberapa waktu lalu.
Demi menyukseskan skema tersebut, DLH menerjunkan sedikitnya 345 personel kebersihan tambahan di luar petugas reguler. Selain itu, otoritas kebersihan mengerahkan armada penunjang berupa dua unit truk sampah dan tiga unit mobil pickup. Serta dua unit mesin penyapu jalan (road sweeper) otomatis.
Darto menjelaskan pemilihan mobil pickup bertujuan untuk mempermudah manuver petugas di tengah kemacetan konvoi ketimbang menggunakan truk besar yang kaku. Pasukan kebersihan ini akan fokus mengawasi sepanjang rute konvoi. Serta titik kumpul utama suporter, mulai dari kawasan Sulanjana hingga area sekitar Flyover Pasupati.
Antisipasi Pecahan Botol Kaca yang Mengancam Keselamatan
Di samping mengangkut sampah umum seperti plastik kemasan dan sisa makanan, DLH menaruh perhatian ekstra pada potensi sampah spesifik yang berbahaya, yakni botol kaca bekas. Keberadaan botol kaca di jalanan berisiko tinggi memicu kecelakaan, baik bagi pengguna jalan maupun petugas di lapangan.
“Botol kaca itu yang menyulitkan. Tidak bisa ditangani mesin, harus dipungut satu-satu dan dikarungi. Apalagi kalau sudah dipecahkan, itu berbahaya karena bisa melukai,” ungkap Darto cemas.
Menyikapi potensi bahaya tersebut, Darto mengimbau keras kepada seluruh masyarakat dan Bobotoh yang turun ke jalan agar tidak membawa, apalagi sampai memecahkan botol kaca selama pesta kemenangan berlangsung. Kesadaran bersama ini sangat krusial agar proses pembersihan Kota Bandung bisa berjalan lebih aman, cepat, dan kondusif.
(Yusuf Mugni)



