BANDUNG,FOKUSJabar.id: CEO Faunaland Indonesia, Danny Gunelen, menegaskan bahwa pengelolaan kebun binatang modern harus bertransformasi menjadi pusat konservasi, edukasi, dan perlindungan satwa yang berkelanjutan. Ia menilai lembaga konservasi saat ini tidak boleh sekadar berfungsi sebagai tempat hiburan, melainkan harus menjamin kesejahteraan satwa (animal welfare) secara menyeluruh.
Danny melihat adanya pergeseran pola pikir masyarakat yang semakin kritis terhadap lembaga konservasi. Publik kini menuntut transparansi dan ingin memastikan bahwa setiap satwa mendapatkan perawatan yang layak serta dikelola secara bertanggung jawab.
Baca Juga: Faunaland Siapkan Suntikan Dana Besar untuk Perawatan Satwa Bandung Zoo
“Masyarakat sekarang tidak hanya ingin melihat satwa, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana pengelola merawat mereka. Kami memandang perkembangan ini sebagai hal yang sangat positif bagi dunia konservasi,” ujar Danny, Senin (11/5/2026).
Komitmen dan Passion dalam Pengelolaan
Terkait keikutsertaan Faunaland dalam proses pemilihan pengelola baru Kebun Binatang Bandung, Danny menekankan pentingnya faktor kepedulian. Menurutnya, siapa pun yang nantinya memegang mandat pengelolaan harus memiliki passion dan kecintaan yang tulus terhadap satwa.
Ia menjelaskan keberhasilan sebuah kebun binatang terlihat saat lembaga tersebut mampu menjalankan fungsi konservasi nyata. Yakni melalui program pengembangbiakan yang sukses.
“Pengelola yang baik adalah mereka yang mampu mengembangbiakkan satwa dan, jika memungkinkan, melakukan pelepasliaran kembali ke habitat alaminya,” tambahnya.
Aksi Nyata dan Inovasi Edukasi
Faunaland sendiri telah aktif menjalankan berbagai program konservasi bersama Kementerian Kehutanan RI. Terrmasuk melepasliarkan kura-kura leher ular rote dan kucing emas. Selain aksi di lapangan, perusahaan ini mengembangkan konsep Children Safari Experience untuk membangun keterlibatan generasi muda terhadap isu-isu keanekaragaman hayati melalui pengalaman interaktif.
Saat ini, Faunaland Group tengah memacu pengembangan kawasan konservasi urban di atas lahan seluas 10 hektar di Buperta Cibubur. Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada Juni 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas ruang edukasi publik.
Danny menegaskan kembali bahwa kebun binatang modern harus mampu memikul tanggung jawab besar sebagai ruang edukasi yang membangun kepedulian publik terhadap lingkungan hidup secara konsisten dan transparan.
(Yusuf Mugni)


