PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) memperkuat strategi pencegahan perkawinan anak. Langkah ini menjadi prioritas utama pemerintah daerah untuk mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi.
Kepala Dinas KBP3A Kabupaten Pangandaran, Agus Mailana, menegaskan bahwa perkawinan di usia dini membawa dampak negatif yang luas. Fenomena ini memicu berbagai persoalan serius, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga penurunan kualitas sumber daya manusia secara umum.
Baca Juga: Heboh! Pengadaan Burung Murai, Kandang Jangkrik di Pemkot Tasikmalaya
“Perkawinan anak memicu banyak risiko berbahaya, seperti putus sekolah, meningkatnya potensi stunting, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga beban ekonomi keluarga. Oleh karena itu, seluruh pihak harus terlibat aktif untuk memutus rantai ini,” ujar Agus, Senin (11/5/2026).
Edukasi dan Kolaborasi Lintas Sektoral
Agus menjelaskan bahwa dinasnya terus menjalankan program sosialisasi dan edukasi secara berkelanjutan. Sasaran program ini mencakup remaja, orang tua, institusi pendidikan, hingga pemerintah desa. KBP3A juga merangkul tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk memberikan pemahaman mengenai dampak buruk pernikahan dini.
Pemerintah menyebarkan pesan pencegahan melalui berbagai kanal, seperti penyuluhan langsung, forum anak, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, hingga kampanye masif di media sosial agar menjangkau masyarakat luas.
Penguatan Peran Keluarga dan Teknologi
Selain edukasi, pemerintah daerah memperkuat sinergi lintas sektor untuk mendampingi keluarga. Pendekatan ini menitikberatkan pada penguatan peran orang tua, pemahaman kesehatan reproduksi bagi remaja, serta pembinaan karakter anak dalam merencanakan masa depan.
“Kami berupaya memastikan anak-anak di Pangandaran mendapatkan hak sepenuhnya untuk belajar dan berkembang secara optimal sebelum mereka memutuskan untuk membina rumah tangga,” tambahnya.
Dinas KBP3A juga mengoptimalkan penggunaan aplikasi edukasi sebagai sarana monitoring sekaligus alat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang usia ideal pernikahan.
Agus berharap kolaborasi seluruh elemen masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak. Sehingga angka perkawinan anak di Pangandaran terus menurun.
(Sajidin)


