BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite yang menembus Rp23.600 per liter pada pertengahan April 2026 tidak mengganggu layanan pengangkutan sampah di Kota Bandung.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung memastikan operasional armada tetap berjalan normal meski terjadi penyesuaian biaya.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto mengaku telah mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM melalui sistem pengelolaan anggaran yang terintegrasi, termasuk penggunaan teknologi digital dalam pengisian bahan bakar.
Baca Juga: 17 Titik PJU Bakal Terangi Jalan Ibu Inggit Garnasih Bandung
Menurutnya, armada pengangkut sampah di Kota Bandung terdiri dari tiga kategori kendaraan dengan skema pembiayaan berbeda, yakni kendaraan milik dinas serta kendaraan sewa dan rental dari pihak ketiga.
“Untuk kendaraan milik DLH atau plat merah, itu menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dexlite dari Pertamina dengan sistem kartu radio frequency identification (RFID). Sementara untuk kendaraan sewa dan rental, biaya BBM menjadi tanggung jawab penyedia,”kata Darto, Rabu (22/4/2026).
Darto menjelaskan, bahwa dalam skema kerja sama dengan pihak ketiga, DLH hanya membayar jasa pengangkutan sampah tanpa menanggung konsumsi bahan bakar kendaraan.
“Jadi untuk yang sewa dan rental, kita tidak menghitung BBM. Yang di bayar adalah jasa angkut, sedangkan BBM di tanggung pemilik kendaraan,” katanya.
Meski demikian, Darto mengakui kenaikan harga BBM tetap berdampak pada biaya operasional armada milik dinas. Hal ini karena sistem pengisian BBM berbasis RFID yang di gunakan mencatat transaksi sesuai harga aktual saat pengisian.
“Karena sistemnya berbasis harga faktual, maka ketika harga naik, pengeluaran juga ikut menyesuaikan. Itu pasti berpengaruh,” ucapnya.
Mekanisme Penyesuaian Anggaran
Namun, ia menegaskan dampak tersebut masih dapat di kendalikan melalui mekanisme penyesuaian anggaran yang di lakukan secara berkala.
“RFID ini seperti saldo BBM. Jadi setiap pengisian mengikuti harga saat itu, dan penyesuaiannya di lakukan melalui top up anggaran,” jelasnya.
Darto menyebut, komposisi armada pengangkut sampah di Kota Bandung saat ini relatif seimbang antara kendaraan milik dinas dan kendaraan sewa.
“Kurang lebih 50 persen kendaraan milik DLH dan 50 persen lainnya kendaraan sewa, meski detailnya ada di masing-masing UPT,” ujarnya.
Ia memastikan, kenaikan harga BBM tidak berdampak pada jadwal layanan pengangkutan sampah. Menurutnya, faktor yang lebih memengaruhi operasional justru berasal dari kondisi teknis di lapangan.
Baca Juga: Pemkot Bandung Siapkan Trotoar Tinggi, Parkir Liar dan PKL Ditertibkan
“Untuk jadwal pengangkutan tidak ada perubahan. Biasanya yang lebih berpengaruh itu faktor teknis seperti cuaca, kondisi TPS, atau kendala saat proses loading,” ungkapnya.
Darto menambahkan, kenaikan harga BBM merupakan bagian dari dinamika yang telah di perhitungkan dalam sistem operasional DLH.
“BBM itu konsekuensi logis dalam operasional. Dengan sistem digital dan pembagian peran armada yang jelas, kami pastikan layanan persampahan tetap berjalan meski harga energi berfluktuasi,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



