TASIKMLAYA, FOKUEJabar.id: Sunyi, lembap dan terbengkalai. Itulah gambaran sebuah rumah berhantu di Kampung Gentong, Desa Buniasih, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar).
Namun, siapa sangka di balik senyapnya dinding rumah milik Enung tersebut tersimpan sebuah fenomena langka yang membuat bulu kuduk merinding sekaligus takjub.
BACA JUGA:
Ketua Baznas Kota Tasikmalaya Optimis Capai Target Rp15 Miliar Meski Belasan UPZ Belum Lapor
Bukan hantu atau makhluk halus, melainkan “kerajaan” malam. Belasan ribu Kelelawar di temukan bersarang dan menguasai seluruh bagian atap rumah yang sudah lama di tinggalkan penghuninya.
Awal Mula Penemuan Kerajaan Kelelawar
Kecurigaan warga bermula dari bau menyengat dan suara gaduh yang kerap terdengar dari arah plafon rumah. Saat di periksa, pemandangan luar biasa tersaji.
Koloni besar satwa nokturnal bergelantungan rapat, menutupi setiap jengkal kayu penopang genting hingga memenuhi area eternit.
”Aduh, banyak pisan (banyak sekali) kelelawarnya. Saya sampai gemetar lihatnya, langsung minta bantuan Damkar,” ungkap Enung.
Evakuasi Dramatis
Menerima laporan yang tidak biasa ini, Tim UPTD Damkar Kabupaten Tasikmalaya langsung terjun ke lokasi. Meski harus menempuh perjalanan sulit selama dua jam, tim tetap semangat menjalankan misi “pengusiran” tamu tak di undang tersebut.
Komandan Regu Damkar, Aam mengaku terkejut saat tiba di lokasi. Estimasi awal hanya belasan ekor, ternyata kenyataannya jauh lebih masif. Jumlahnya belasan ribu dengan estimasi lebih dari 15.000 ekor.
Sementara itu kondisi ruang cukup gelap, lembap dan penuh kotoran kelelawar. Awalnya untuk melakukan evakuasi hanya menggunakan jaring. Namun gagal total karena jumlahnya terlalu banyak.
BACA JUGA:
Pemkab Tasikmalaya Siapkan Karpet Merah bagi 7 Ribu UMKM Desa
Sadar bahwa jaring tak akan mampu membendung belasan ribu pasang sayap, petugas mengubah taktik. Teknik pengasapan menjadi pilihan terakhir.
Sebagian eternit dan genting di buka paksa untuk memberikan jalan keluar bagi koloni tersebut.
Suasana berubah mencekam sekaligus dramatis saat asap mulai membubung. Ribuan kelelawar berhamburan keluar dari celah atap, menciptakan pemandangan hitam yang menutupi langit siang di Kampung Gentong. Proses evakuasi ini memakan waktu hingga empat jam lamanya.
Menurut petugas, ada beberapa faktor yang membuat rumah Enung menjadi “hotel bintang lima” bagi para kelelawar. Salah satunya lama tidak di huni.
Kelelawar menyukai tempat yang tenang tanpa gangguan manusia. Di tambah kondisinya lembab.
Suasana dingin dan lembap sangat ideal untuk perkembangbiakan mereka. Serta adanya lubang-lubang kecil di area atap memudahkan koloni masuk dan membangun sarang.
Himbauan Kesehatan bagi Warga
Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Damkar, Engking mengingatkan,kehadiran kelelawar dalam jumlah besar bukan hanya masalah kebisingan.
Tetapi juga membawa bahaya penyakit. Di mana kotoran kelelawar (guano) dapat memicu gangguan pernapasan dan membawa virus berbahaya.
Selain itu, beban dari belasan ribu kelelawar dan kotorannya bisa merusak struktur kayu atap.
”Alhamdulillah, tugas selesai tanpa merusak bangunan secara permanen. Kami imbau warga segera lapor jika melihat fenomena serupa. Jangan di tangani sendiri karena berisiko,” pungkas Engking.
Kini, rumah di Kampung Gentong itu kembali sunyi. Namun, kisah tentang “Kerajaan Kelelawar” ini akan terus menjadi buah bibir warga Tasikmalaya sebagai pengingat betapa alam bisa mengambil alih ruang-ruang yang terlupakan oleh manusia.
(Abdul Latif)



