BANDUNG,FOKUSJabar.id: Lonjakan harga bahan baku akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai memukul industri pangan lokal di Jawa Barat ((Jabar). Para perajin tahu dan tempe kini menghadapi tekanan berat menyusul kenaikan signifikan harga kedelai serta plastik kemasan dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Paguyuban Tahu Tempe Jawa Barat, Muhamad Zamaludin, menjelaskan bahwa beban biaya tidak hanya bersumber dari komoditas kedelai. Bahan pendukung seperti plastik pengemas juga mengalami kenaikan harga yang sangat drastis dan membebani operasional.
Baca Juga: Kuasa Hukum Ono Surono Protes Langkah KPK Matikan CCTV Saat Penggeledahan
“Pengaruhnya sangat besar karena harga plastik naik hampir 50 persen atau sekitar Rp14.000 per kilogram. Sementara itu, harga kedelai saat ini sudah menyentuh kisaran Rp10.700 hingga Rp10.800 per kilogram,” ujar Zamaludin, Kamis (2/4/2026).
Penyesuaian Harga dan Strategi Bertahan
Kenaikan harga bahan baku ini memaksa sebagian besar perajin untuk menyesuaikan harga jual produk mereka ke konsumen. Meski berat, para pengusaha melakukan langkah tersebut secara bertahap guna menghindari penurunan daya beli masyarakat yang ekstrem.
Mayoritas perajin memilih menaikkan harga jual sedikit demi sedikit daripada mengurangi ukuran produk secara drastis. Sebagai gambaran, harga satu papan tahu kini naik dari Rp60.000 menjadi Rp62.000, sementara harga tempe mengalami kenaikan sekitar 7 hingga 10 persen.
Zamaludin menegaskan bahwa kenaikan harga harian kedelai sebesar Rp100 hingga Rp200 sudah terjadi sejak sebelum Ramadan dan terus berlanjut hingga pascalebaran. Kondisi ini memicu efek domino terhadap harga bahan penolong lainnya seperti mentega, bawang putih, garam, kunyit, hingga biaya energi seperti gas dan kayu bakar.
Harapan pada Peran Pemerintah
Dalam operasional harian, perajin skala kecil rata-rata menghabiskan 3,5 hingga 4 kuintal kedelai, sementara industri skala besar mampu menyerap hingga 8 ton per hari. Walaupun stok barang relatif aman, tingginya angka nominal pada label harga tetap menjadi ganjalan utama bagi keberlangsungan usaha kecil.
Zamaludin berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga bahan baku di pasar. Ia menyarankan opsi impor kedelai dari negara alternatif seperti India dan Brasil sebagai solusi sementara, meskipun kualitasnya mungkin berbeda dengan pasokan dari Amerika Serikat atau Kanada.
“Kami sangat berharap pemerintah membantu menstabilkan harga agar perajin kecil bisa bertahan. Saat ini, para pengusaha kecil sudah mulai kesulitan menghadapi situasi ini,” ungkapnya.
Di tengah situasi sulit ini, Zamaludin mengapresiasi sikap konsumen yang cukup memahami kondisi yang terjadi. Banyak pembeli yang sudah mengetahui informasi kenaikan harga melalui berita. Sehingga transaksi di pasar tetap berjalan kondusif meski ada penyesuaian harga.
(Yusuf Mugni)



