BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kisah Fertidianto dan istrinya di Desa Guwosari membuktikan bahwa pengabdian sosial yang berdampak nyata sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Pasangan ini menyatukan visi kemanusiaan mereka sejak masa muda hingga kini menjadi motor penggerak bagi masyarakat sekita.
Sebelum membina rumah tangga, keduanya sudah aktif mendampingi warga, mengantar pasien, hingga terjun dalam organisasi kemanusiaan. Kebersamaan dalam berbagai aktivitas sosial tersebut menumbuhkan kecocokan pandangan hidup yang melampaui urusan personal.
Baca Juga: Sabet Gelar Baby Champion di Jepang, Hartono Soekwanto Harumkan Nama Indonesia
“Membantu masyarakat sudah menjadi panggilan jiwa kami. Sejak awal kami terbiasa menjalankan kegiatan sosial, jadi saat menikah, kami merasa sudah berjalan satu arah,” ujar Fertidianto, Kamis (19/3/2026).
Pembagian Peran dalam Pemberdayaan
Setelah berkeluarga, pasangan ini terus bergerak di bidang sosial dengan pembagian tugas yang lebih terorganisir. Sang istri fokus mendampingi kelompok rentan marginal, termasuk lansia, penyandang disabilitas, serta perempuan kepala keluarga. Ia menjalankan berbagai program mulai dari kelas kegiatan, kunjungan rumah (home care), hingga menyediakan ruang berbagi cerita.
Di sisi lain, Fertidianto mengambil peran di balik layar untuk mendukung keberlangsungan seluruh program. Bagi mereka, esensi kerja sosial terletak pada manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan pada siapa yang mendapatkan panggung.
Solusi Lingkungan Melalui Budidaya Maggot
Tak berhenti pada pendampingan sosial, pasangan ini juga menciptakan program lingkungan berbasis masyarakat. Mereka menjawab persoalan sampah organik di wilayahnya dengan membudidayakan maggot sebagai solusi pengolahan limbah.
Meski sempat mengalami kegagalan pada tahap awal, mereka berhasil membangun sistem yang memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah sekaligus menjadikannya pakan ternak. Program ini kemudian bersinergi dengan budidaya ayam KUB, menciptakan siklus berkelanjutan antara pengelolaan limbah dan ketahanan pangan.
“Kami sempat keliru di awal, namun dari kesalahan tersebut kami memperbaiki sistem hingga program ini bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” jelasnya.
Mengembangkan Ketahanan Pangan Keluarga
Upaya pasangan ini semakin berkembang berkat dukungan dari Rumah Amal Salman wilayah Yogyakarta. Kolaborasi ini memperkuat rencana pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga di Desa Guwosari. Fertidianto berharap warga dapat meniru pola ini dengan memanfaatkan lahan terbatas untuk beternak ayam dan menanam sayuran guna memenuhi kebutuhan mandiri.
Selain itu, mereka menyediakan sebuah pendopo sebagai ruang belajar bersama. Masyarakat sering menggunakan tempat tersebut untuk pertemuan warga, latihan seni, hingga edukasi lingkungan. Fertidianto ingin pendopo ini menjadi pusat pertukaran gagasan agar semangat kebersamaan terus terjaga di tengah perubahan zaman.
“Kami ingin tempat ini menjadi ruang belajar bagi siapa saja. Pengunjung bisa datang, belajar, lalu meneruskan ilmu tersebut di tempat mereka masing-masing,” pungkas Fertidianto.
(Mia)



