TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Momentum libur Lebaran 2026 melahirkan konsekuensi tersendiri bagi kebersihan lingkungan di Kota Tasikmalaya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat adanya lonjakan volume sampah yang cukup signifikan, mencapai 15 persen di bandingkan hari-hari biasanya.
Fenomena gunung sampah di sejumlah titik keramaian menjadi pemandangan yang tak terelakkan. Hal ini di picu oleh tingginya aktivitas konsumsi masyarakat.
Baca juga: Waspada! Gelombang Pasang Pantai Selatan Tasikmalaya, Wisatawan Jangan Berenang
Serta membludaknya jumlah warga pendatang atau pemudik yang masuk ke wilayah Kota Tasikmalaya selama periode Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026.
Petugas Kerja Lembur dan Armada Maksimal
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini sudah mulai terasa sejak masa Ramadan hingga puncaknya pada 23 Maret 2026.
”Kenaikan volume sampah berkisar antara 10 hingga 15 persen. Di titik-titik keramaian saja, sampah yang berhasil kami angkut mencapai kurang lebih 30 meter kubik,” ujar Feri Senin (23/3/2026).
Guna memastikan Kota Resik tidak terkepung sampah, DLH telah menyiapkan skema khusus yakni. Sistem Kerja Lembur. Petugas kebersihan di kerahkan dengan jadwal ekstra untuk menyisir tumpukan sampah.
Optimalisasi Armada: Seluruh kendaraan pengangkut dan sarana prasarana di kerahkan 100% tanpa henti dan Manajemen Shif. Pembagian jadwal libur dan lembur personel telah di atur sejak awal agar layanan ke pemukiman warga tetap berjalan normal meski beban kerja meningkat.
Stop Pola Kumpul Angkut Buang
Meskipun penanganan di lapangan terus di pacu, isu pengelolaan sampah di daerah mendapat sorotan tajam dari Pemerintah Pusat.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan bahwa pola lama, yakni sekadar mengambil sampah lalu membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harus segera di tinggalkan.
Berdasarkan data nasional hingga akhir 2025, baru sekitar 25% sampah yang benar-benar terkelola dengan baik. Sisanya, sebanyak 75% atau setara 36.684 ton per hari, masih berisiko tinggi mencemari lingkungan jika tidak di tangani dengan serius.
Baca Juga: Libur Lebaran 2026, Cipanas Galunggung Tasikmalaya Diserbu Wisatawan
Pemerintah daerah kini di tuntut untuk beralih ke strategi yang lebih berkelanjutan, seperti Gerakan 3R (Reuse, Reduce, Recycle),Ekonomi Sirkular yang melibatkan masyarakat sejak level rumah tangga. Dan pengurangan Sampah dari Hulu agar beban TPA tidak terus membengkak.
Kebersihan Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Di sisi lain, Feri Arif Maulana kembali mengingatkan bahwa peran aktif warga adalah kunci utama. Masyarakat di imbau keras untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke aliran sungai yang dapat memicu bencana banjir.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan kota. Jangan hanya mengandalkan pemerintah, mulailah dari diri sendiri dengan tidak membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.
(Abdul Latif)



