BANDUNG, FOKUSJabar.id: Manajemen Persib Bandung memberikan tanggapan mengenai insiden rasisme yang menimpa dua pemain usai laga kontra Persebaya Surabaya.
Kedua pemain yang mendapat serangan rasisme melalui media sosial yakni bek Persebaya Mikael Alfredo Tata dan bek Persib Bandung, Kakang Rudianto.
BACA JUGA:
Persebaya vs Persib, Bojan Hodak Ogah Komentari Kinerja Wasit
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan mengatakan, sepakbola selalu menjadi ruang yang mempertemukan banyak perbedaan.
Di dalamnya ada keberagaman latar belakang, budaya, bahasa dan identitas yang justru membuat olahraga ini hidup dan di cintai oleh jutaan orang.
“Karena itu, tidak ada ruang sedikit pun bagi praktik rasisme di dalam sepakbola,” kata Adhitia.
“Kami menaruh perhatian serius terhadap serangan bernuansa rasis yang di arahkan kepada dua pemain muda Indonesia, Mikael Alfredo Tata dan Kakang Rudianto,” ucapnya.
Adhitia mengatakan, sepakbola seharusnya menjadi ruang untuk saling menghargai. Bukan tempat untuk menyebarkan kebencian.
“Kritik terhadap permainan adalah bagian dari dinamika olahraga. Namun serangan yang menyentuh identitas ras atau latar belakang seseorang jelas melampaui batas yang dapat di terima,” ujarnya.
“Kami ingin menegaskan bahwa Persib berdiri bersama Kakang Rudianto dan juga memberikan dukungan moral kepada Mikael Alfredo Tata,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Persib Siap Hadapi Persebaya, Federico Barba Targetkan 3 Poin
Kedua pemain tersebut menurut Adhitia adalah bagian dari generasi muda sepakbola Indonesia yang sedang berkembang.
Selain itu, mereka juga berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, aman serta penuh respek untuk terus bertumbuh.
“Kami juga percaya bahwa mayoritas suporter. Baik Bobotoh maupun Bonek memiliki semangat yang sama. Yakni, mencintai sepakbola dengan cara yang bermartabat,” katanya.
Karena itu, Manajemen Persib mengajak semua pihak untuk tidak terpancing oleh tindakan segelintir oknum yang justru dapat merusak nilai persaudaraan antarpecinta sepakbola.
Persib juga berkomitmen untuk terus menolak segala bentuk diskriminasi di sepakbola.
“Kami berharap momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sepakbola Indonesia hanya bisa tumbuh jika di bangun di atas rasa saling menghormati,” ungkapnya.
“Kepada Kakang dan Tata, kalian tidak sendirian. Sepakbola yang sehat adalah sepakbola yang melindungi para pemainnya. Dan kami akan selalu berdiri di sisi itu,” tegasnya.
(Arif)


