KUNINGAN, FOKUSJabar.id: 305 Ikan Dewa mati massal di Balong Keramat, kawasan wisata Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat (Jabar).
Mengutip tribunjabar.id, Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar menuju lokasi untuk memastikan langkah penanganan serius terhadap ikon wisata religi tersebut.
BACA JUGA:
BPBD Jabar Gerak Cepat Tanggulangi Longsor di Enam Desa Kuningan
Menurut Bupati, hingga hari ketujuh sejak pertama kali terpantau pada 29 Januari 2026, tercatat sebanyak 305 ekor ikan dewa di temukan mati.
Dian mengatakan, fenomena kematian Ikan Dewa tidak bisa di anggap remeh.
Dia meminta seluruh perangkat daerah bekerja berdasarkan data teknis untuk menyelamatkan ekosistem kolam keramat tersebut.
“Fenomena ini harus di tangani secara serius dan komprehensif. Kita bertindak berdasarkan data yang akurat, bukan asumsi,” ungkapnya.
Salah satu instruksi utamanya, penyediaan kolam karantina khusus untuk memisahkan ikan yang sakit serta normalisasi sirkulasi air masuk dan keluar.
Bupati juga mempertimbangkan opsi pengurasan total kolam untuk pemulihan ekosistem.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, A. Taufik Rohman mengatakan, kondisi memprihatinkan dari ikan-ikan yang mati.
Berdasarkan pengamatan lapangan, di temukan gejala klinis yang mengarah pada serangan parasit.
“Ikan tampak lemas, ada luka kemerahan di tubuh, insang pucat memutih hingga sisik yang mudah terlepas. Kami juga menemukan adanya infeksi cacing jangkar pada kulit, insang dan rongga mulut ikan,” kata Taufik.
BACA JUGA:
Mudik Lebaran 2024, Layanan Kesehatan di Kuningan Siaga 24 Jam
Sebagai langkah awal, tim teknis telah memusnahkan bangkai ikan secara aman dan melakukan stabilisasi kualitas air menggunakan garam krosok serta tumbuhan daun kipahit untuk menekan laju infeksi.
Perwakilan Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Barat, Hari menyebutkan, situasi di Cigugur sudah masuk kategori gawat darurat.
Menurutnya, pengobatan di kolam utama yang sangat luas akan berjalan tidak efektif.
“Di perlukan kolam instalasi darurat untuk isolasi. Saat ini, sampel ikan sudah kami ambil untuk pemeriksaan laboratorium. Hasilnya akan keluar maksimal dalam tiga hari. Kami berharap, negatif dari penyakit karantina,” ujar Hari.
Pemerintah daerah kini tengah menyiapkan rekomendasi teknis untuk pengurasan dan pengeringan kolam guna memperbaiki kualitas air yang diduga telah tercemar berat.
(Bambang Fouristian)


