PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Di usia 11 tahun, Khoenunisa menunjukkan keteguhan hati yang melampaui usianya. Siswi kelas V SDN 2 Kalipucang, Kabupaten Pangandaran ini setiap hari berjualan sate totok di lingkungan sekolah demi membantu menopang ekonomi keluarga.
Nisa, sapaan akrabnya, tinggal di rumah sederhana bersama sang nenek di RT 4/1 Dusun Girisetra, Desa Kalipucang. Ia menjalani kehidupan tanpa ayah yang meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Citanduy beberapa tahun lalu. Sementara itu, ibunya harus bekerja di luar kota demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca Juga: Papi Cafe dan Resto Hadirkan Sensasi Nongkrong Elegan di Rooftop Pangandaran
Sejak pagi buta, Nisa sudah memulai aktivitasnya. Ia dengan cekatan membantu nenek menusukkan totok ke lidi bambu, menyiapkan dagangan sebelum matahari terbit. Rutinitas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya.
Sebelum bel sekolah berbunyi, Nisa turut mendampingi nenek berjualan di sekitar sekolah. Tangan kecilnya lincah membungkus sate totok, sesekali melayani pembeli dengan senyum dan tutur kata sopan.
Begitu jam pelajaran dimulai, Nisa beralih peran menjadi pelajar. Ia mengikuti pembelajaran dengan penuh perhatian dan tak pernah menunjukkan lelah. Baginya, membantu nenek bukan beban, melainkan pelajaran berharga tentang tanggung jawab dan kemandirian.
Saat waktu istirahat tiba, Nisa kembali menghampiri neneknya. Ia memastikan dagangan tetap rapi dan pembeli terlayani dengan baik sebelum kembali ke kelas.
Meski Berjualan, Khoenunisa Tetap Fokus Mengikuti Pelajaran Sekolah
Wali kelas V SDN 2 Kalipucang, Silviana Maya, mengenal Nisa sebagai sosok anak yang santun, rajin, dan penuh semangat. Menurutnya, Nisa tidak pernah menjadikan keterbatasan hidup sebagai alasan untuk menyerah.
“Nisa itu anaknya rajin dan sopan. Sebelum masuk sekolah membantu neneknya berjualan, lalu di kelas tetap fokus belajar,” ujar Silviana, Senin (2/2/2026).
Silviana menambahkan, meski harus membagi waktu antara belajar dan berjualan, Nisa tidak pernah mengeluh. Semangatnya justru menjadi inspirasi bagi teman-temannya.
“Nisa sangat luar biasa untuk anak seusianya,” tuturnya.
Ia menilai, sosok Nisa mencerminkan pendidikan karakter yang tumbuh alami dari kehidupan sehari-hari. Nilai kerja keras, kepedulian terhadap keluarga, dan rasa hormat kepada orang tua terlihat jelas dalam sikapnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Nisa tetap memelihara mimpi seperti anak-anak lain. Dukungan nenek dan lingkungan sekolah menjadi sumber kekuatan baginya untuk terus melangkah.
Kisah Khoenunisa bukan sekadar tentang anak kecil yang berjualan sate totok, melainkan potret keteguhan hati, cinta keluarga, dan semangat pantang menyerah yang tumbuh dari kesederhanaan.
(Sajidin)


