spot_imgspot_img
Rabu 13 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kompetisi Teh Dongkrak Kualitas dan Kuantitas

BANDUNG, FOKUSJabar.id : “National Tea Competition 2019” momentum untuk meningkatkan trend teh Jawa Barat, dalam ajang ini juga sebagai bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas teh Jawa Barat menjawab tantangan pasar.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Teh Indonesia, Dr Ir Wahyu MM mengatakan, kompentisi yang dilakukan kerjasama antara Asosiasi Teh Indonesia dengan Kementerian Perindustrian Indonesia ini adalah salah satu bentuk keseriusan mengambil langkah, untuk menuju pasar yang lebih besar untuk teh Jawa Barat.

“Jadi acara ini merupakan langkah awal untuk kembali meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi teh tanah air dan juga mempopulerkan teh menjadi minuman favorit masyarakat Indonesia,” katanya usai pembukaan, “National Tea Competition 2019” di hotel Bidakara Savoy Hoaman, Jumat (18/10/2019).

Wahyu mengatakan National Tea Competition 2019 merupakan kompetisi teh tingkat nasional pertama kali yang diselenggarakan di Indonesia.

Tujuan dari National Tea Competition 2019 adalah memilih teh asal Indonesia yang berkualitas paling baik untuk jenis Teh Hitam Orthodox, Teh Hitam CTC, Teh Hijau, Teh Putih, dan Teh Wangi.

Wahyu menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memberikan apresiasi kepada produsen teh yang mempunyai kualitas terbaik pada kompetisi ini yang akan kemudian diikutsertakan dalam lomba teh tingkat dunia di Korea Selatan akhir tahun ini.

Lanjut dia, pusat perkebunan teh di Indonesia beragam, mulai dari Jawa Barat, Sumatra, Jawa Tengah dan beberapa daerah lainnya.

“Provinsi Jawa Barat, kata dia, memiliki areal komoditi teh seluas 92.816 hektare atau 77,64 persen dari luas areal perkebunan teh nasional,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (ATI) Dede Kusdiman mengatakan, di dalam acara tersebut ada tim penilai atau penguji mutu teh yang dilombakan.

Lanjut Dia, mereka adalah tim independen yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri yang ahli dalam pengujian teh.

“Peserta National Tea Competition 2019 terdiri dari 16 perusahaan, sebanyak 54 pabrik teh mengirimkan sampel sebanyak 89 sampel,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Dede mengatakan tidak hanya penilaian teh terbaik, pada kegiatan ini Asosiasi Teh Indonesia dan menobatkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beserta istri, yakni Atalia Praratya, serta Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan beserta istri, yakni Sonya Fatmala, menjadi Duta Teh Indonesia periode 2019-2020.

“Jadi acara penobatan ini diharapkan dapat meningkatkan citra teh Indonesia melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi sehingga masyarakat dapat lebih mengenal teh yang berkualitas, serta memajukan industri teh nasional,” katanya.

Dede mengatakan, upaya ini ditempuh dalam menyikapi perkembangan kinerja industri teh nasional selama lebih dari satu dekade terakhir yang dirasakan kurang menggembirakan, baik dalam peningkatan volume, kualitas produksi atau pemasaran.

Oleh karena itu, pihaknya menilai perlu dilakukan upaya penyelamatan industri teh nasional yang diikuti produsen atau perusahaan milik BUMN, swasta, koperasi, serta petani teh atau gapoktan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dede menambahkan produksi teh Tanah Air mengalami penurunan baik luas areal dan produksinya dan pada 2019 terdapat 119 ribu hektar lahan perkebunan teh, menurun dari 140 ribu hektare sejaum 10 tahun lalu.

“Negara Indonesia menjadi penghasil teh nomor tiga di dunia dulu, sekarang peringkat ke-tujuh. Lima tahun terakhir bisa ekspor 50 ribu ton, sekarang hanya 40 ribu ton per tahun,” tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Barat Dodi Firmansyah mengatakan,  Jabar merupakan produsen teh terbesar di Indonesia. Di mana lebih dari 70 persen luar area perkebunan teh secara nasional berada di Jabar.

Hanya saja, kondisi lahan perkebunan teh terus berkurang sekitar 1,7 persen per tahun akibat alih fungsi lahan atau alih komoditi.

“Saat ini, luas areal yang tercatat di data statistik perkebunan tahun 2018 sekitar 84.316 hektar,” ujar Dodi.

Ada pula kendala lainnya yang meninpa komoditas teh saat ini, yaitu seperti penurunan produksi, ekspor berkurang, impor naik. Akibatnya, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja dan keberlangsungan agribisnis terancam. Dengan begitu pihaknya berupaya membangun kembali kejayaan teh Jabar.

“Di antaranya sosialisasi, promosi dan edukasi kepada masyarakat. Selain itu, penyebaran bibit teh berkualitas kepada para petani teh di Jabar. Produksi dan kualitas teh terus didorong melalui inovasi maupun rekayasa genetika,” kata dia.

Dodi pun mengapresiasi kegiatan National Tea Competition 2019. “Semoga dengan adanya event ini teh Indonesia khususnya di Jabar semakin maju,” tuturnya. (AS/DH)

spot_img

Berita Terbaru