BANDUNG, FOKUSJabar.id : Ratusan atlet Aikido Shudokan Indonesia mengikuti gelaran Annual Demonstrasi yang digelar di De Braga by Artotel, Jalan Braga Kota Bandung, Minggu (25/8/2019). Kegiatan ini sendiri merupakan yang ke-15 digelar oleh Aikido Shudokan Indonesia.
Head Instructor Aikido Shudokan Indonesia, Mark A. Hadiarja menuturkan, kegiatan annual demonstration kali ini digelar sebagai upaya mensosialisasikan sekaligus memperkenalkan olahraga beladiri Aikido kepada masyarakat di Kota Bandung. Selain itu, kegiatan digelar untuk melihat progres latihan yang sudah dilakukan oleh para atlet di dojo masing-masing.
“Sampai saat ini, Aikido sudah digeluti oleh ratusan orang dan sekitar 80 anggota secara aktif melakukan latihan. Aikido sendiri sudah ada di Indonesia sejak tahun 2001, dan Kota Bandung menjadi tempat pertama. Sekarang, selain di Kota Bandung, dojo Aikido ini tersebar juga di Jakarta, Tangerang, dan Padang,” ujar Mark saat ditemui usai kegiatan, Minggu (25/8/2019).
Mark menambahkan, perkembangan olahraga beladiri Aikido di Kota Bandung sendiri sudah cukup pesat. Dalam olahraga Aikido di Indonesia, setidaknya ada empat aliran dan salah satunya aliran yang kita usung.
“Kegiatan ini pun menjadi ajang silaturahmi antar aliran dan kita melakukan latihan bersama. Di Aikido memang tidak atau belum ada kejuaraan, tapi lebih ke demonstrasi seperti ini. Ini karena Aikido adalah olahraga beladiri yang fokus pada kuncian di sendi sehingga kalau dipertandingkan dalam sebuah kejuaraan bisa terjadi cedera, tidak bisa teknik Aikido diterapkan setengah-setengah. Jadi lebih ke seni gerak kalau di pencak silat karena olahraga ini intinya adalah self defence,” terangnya.
Untuk perkembangan olahraga beladiri Aikido di Indonesia, Mark menyebut jika kota-kota besar memperlihatkan perkembangan pesat. Pasalnya, olahraga beladiri saat ini sudah seperti gaya hidup serta kebutuhan dalam mempertahankan diri atau self defence.
“Selain itu, banyak orang tua dari para atlet yang menilai jika olahraga Aikido ini merupakan hal positif bagi anak-anak mereka untuk menghindarkan dari kegiatan yang kurang baik seperti kecanduan game. Lebih baik dimasukan ke dojo, sambil berolahraga dan belajar membela diri. Dan kami sendiri sedang berupaya untuk bisa masuk sebagai anggota KONI dan memenuhi persyaratannya tanpa harus menghilangkan jati diri dari Aikido itu sendiri,” pungkasnya.
(ageng/DAR)



