spot_imgspot_img
Senin 20 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Seniman Tasikmalaya Kawinkan Spiritual dan Aksi Nyata Lewat Ngarumat Hulu Cai

TASIKMALAYA,FOKUSjabar.id: Dewan Kebudayaan dan Kesenian Tasikmalaya (DKKT) tengah mematangkan persiapan gerakan moral bertajuk “Ngarumat Hulu Cai”. Selebrasi dalam rangka menyambut Hari Bumi Sedunia ini akan berlangsung di Mata Air “Gedong Cai”, Cibunigeulis, Rabu (16/4/2026) lalu.

Meskipun menghadapi tantangan medan berupa lahan gambut, panitia terus mengebut persiapan fisik lokasi. Ketua DKKT, Tatang Pahat, menegaskan bahwa kehadiran sejumlah artis ternama seperti Ki Daus, Oni, hingga Ogy bukan sekadar untuk menghibur, melainkan untuk memperkuat pesan pelestarian alam.

Baca Juga: PWRI Kota Tasikmalaya Hidupkan Semangat ‘Purna Bhakti No Way’ Lewat Kurikulum Bahagia

“Ngarumat Hulu Cai merupakan gerakan moral yang mengawinkan nilai spiritual, kearifan lokal, dan aksi nyata. Kami ingin mengingatkan semua pihak bahwa merusak alam adalah bentuk pengingkaran amanah, bukan hanya pelanggaran administratif,” tegas Tatang, ketika ditemui, Senin (20/4/2026).

Kritik Tajam terhadap Kebijakan Daerah

Tatang memanfaatkan momentum ini untuk menyoroti krisis lingkungan di Tasikmalaya. Ia menilai ancaman kelangkaan air merupakan dampak dari akumulasi kebijakan yang tidak memihak pada keberlanjutan alam. DKKT secara khusus mengkritik tiga poin utama: alih fungsi lahan yang tak terkendali di kawasan resapan, lemahnya pengawasan kawasan hulu, serta minimnya komitmen anggaran dari pemerintah daerah.

Tatang mengutip pepatah leluhur, “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” (Hutan rusak, air habis, manusia sengsara), sebagai peringatan keras bagi Pemkot dan DPRD Tasikmalaya agar segera mengambil langkah tegas.

Empat Pilar Misi dan Rangkaian Acara

Gerakan ini mengusung empat misi utama untuk menyelamatkan masa depan air:

  1. Edukasi Publik: Membangun kesadaran bahwa hulu adalah nadi kehidupan.
  2. Revitalisasi Kearifan Lokal: Menjadikan nilai budaya sebagai pedoman menjaga alam.
  3. Aksi Nyata: Mendorong pelestarian lingkungan secara konsisten dan berkelanjutan.
  4. Harmoni Spiritual: Menciptakan keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Puncak acara akan bermula dengan Kirab Budaya yang mengelilingi pusat Kota Tasikmalaya sebagai simbol bahwa pelestarian sumber air adalah tanggung jawab seluruh warga. Setelah itu, prosesi akan berlanjut dengan doa bersama di titik mata air, aksi bersih-bersih kawasan hulu secara massal, penanaman pohon konservasi, serta pertunjukan seni bertema ekologis.

Melalui Ngarumat Hulu Cai 2026, DKKT ingin memastikan peringatan Hari Bumi kembali pada esensinya. Yaitu menciptakan perubahan nyata demi menjamin ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang di Kota Tasikmalaya.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru