spot_imgspot_img
Jumat 18 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Melihat Kampung Ranjirata Kampung Bendera di Kab Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Setiap menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, bendera merah putih wajib dikibarkan.

Bendera merah putih dan umbul-umbul yang dipasang di rumah anda ternyata berasal dari wilayah Ranjirata, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis.

Ranjirata dikenal sebagai kampung bendera. Tidak hanya ribuan, jutaan bendera dan umbul-umbul setiap tahun diproduksi di wilayah tersebut. Pemasarannya tidak hanya regional Jawa Barat akan tetapi merambah seantero Indonesia.

Julukan Ranjirata yang jaraknya sekitar lima kilometer dari pusat kota Ciamis sebagai kampung bendera, mulai dikenal sekitar tahun 1970an. Hingga saat ini ratusan warga setempat menggantungkan kehidupannya dari membuat bendera merah putih maupun umbul-umbul.

Warga RT 15 RW 05 Ranjirata, Desa Ciimari, Kecamatan Cikoneng Didi Rudianto mengatakan, aktivitas persiapan pembuatan bendera mulai berlangsung sejak bulan Februari. Pengerjaan dilakukan sejak awal, agar dapat memenuhi pesanan bendera merah putih maupun umbul-umbul yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Sekarang aktivitasnya relatif sudah sepi. Masih ada beberapa tenaga maklun atau penerima order menyelesaikan tugas menjahit, setelah selesai langsung dikirim ke sini untuk proses terakhir packing,” ungkap Didi Rudianto ketika ditemui di rumahnya, Rabu ( 17/7/2019).

Didi mengaku menggeluti pembuatan bendera sejak tahun 1990. Orang tuanya juga sebagai pembuat bendera. Selain mendapatkan ilmu membuat bendera dari orang tua, dia juga sempat menjadi pekerja pengusaha bendera.

“Membuat bendera merah putih sudah berlangsung turun termurun. Sekarang semua warga di sini tidak hanya terlibat bikin bendera akan tetapi juga umbul-umbul,” katanya.

Dia mengaku pertama mandiri mendapat pinjaman dari tetangga sebesar Rp 10 juta. Seluruh modal usahanya dibelikan membeli kain, benang dan perlengkapan lain di Tasikmalaya. Bahkan pengerjaan dan pemasaran juga dilakukan sendiri dibantu istrinya. Hal itu juga sekaligus untuk mencari pasar.

Seiring perjalanan waktu, saat Didi mendapat pinjaman Rp 300 juta, dari temannya. Modal tersbeut juga digunakan untuk belanja bahan baku membuat bendera dan umbul-umbul, seperti kain jenis tetoron merah dan putih, kain peles khusus untuk membuat umbul-umbul, benang serta perlangkapan lain.

“Sekarang selain dikerjakan sendiri, sebagian besar dikerjkan oleh tenaga maklun. Pertengahan Bulan Juli, mereka datang setor pekerjaannya. Saya memekerjakan orang daerah lain, karena di sini semuanya sudah mendapatkan pekerjaan serupa,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengtakan bendera yang dibuat di Ranjirata mulai dari ukuran kecil 20 X 30 , 90 X 60 sentimeter, 105 X 70 sentimeter hingga terbesar berukuran 180 : 120 sentimeter. Selain itu juga membuat umbul-umbul dengan ukuran mulai dari panjang 3 meter hingga 6 meter, dan backdrop sepanjang 10 meter.

“Ukuran terkecil biasa dipasang di mobil, banyak pesanan ukuran 90 X 60 dan 105 X 70 sentimeter. Untuk pemasaran, lebih banyak ke wilayah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, beberapa wilayah Sumatra. Bendera asal Ranjirata juga sudah menyebar diseluruh wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Didi mengaku optimis Tahun 2019 pemasaran bendera merah utih dan umbul-umbul lebih baik dibandingkan tahun 2018. Saat ini pesanan yang masuk sudah mencapai 600 kodi bendera merah putih serta 700 kodi umbul-umbul dan backdrop.

“Saya optimis pemasaran juga bakal meningkat. Apalagi bulan Agustus tidak hanya ada momen HUT Kemerdekaan RI, juga Hari Raya Idul Adha. Biasanya saat Idul Adha banyak yang pasang umbul-umbul,” ujarnya.

Sementara itu istri Didi, Juju mengaku sejak kecil juga terlibat membuat bendera. Dia mengaku kadang muncul perasaan mendalam yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, ketika menjahit dan membuat bendera merah putih. Salah satunya terbersit pada masa penjajahan untuk mengibarkan bendera marah putih membutuhkan perjuangan sangat berat.

“Sekarang ini saja mudah bikin bendera, peralatan sudah tersedia. Sebenarnya tidak hanya sekadar mengibarkan akan tetapi perlu juga mengetahui bagaimana sejarah memerjuangkannya,” tutur Juju.

(Moh/ DAR)

spot_img

Berita Terbaru