BOGOR,FOKUSJabar.id: Putri Presiden Soeharto (almarhum) Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai negara yang dihormati dunia. Terlebih Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan berbagai potensi alam lainnya ini, pernah disegani dunia. Demikian ditegaskan Mbak Tutut saat Roadshow Kebangsaan ke Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, Parung, Kabupaten Bogor, Senin (8/4/2019).
Menurut dia, Indonesia memiliki banyak keutamaan untuk tampil sebagai bangsa besar yang disegani dunia. Kekayaan alam Indonesia di darat, di laut dan di dalam perut bumi begitu berlimpah.
“Semua seharusnya menjadi jembatan emas untuk menjadi bangsa besar, setara dan dihormati bangsa-bangsa besar lainnya di dunia,” kata Mbak Tutut, disambut tepuk tangan dan pekik ‘Allahu Akbar’ dari sekitar 2.500 santri dan santriwati yang memadati masjid jami di pesantren tersebut.
Di hadapan para santri, Mbak Tutut berpesan agar para santri senantiasa rajin belajar, menempa diri untuk menjadi pejuang bagi bangsa di kemuadia hari. Jangan minder walau lahir dari keluarga pas-pasan.
“Pak Harto kecil juga bukan dari keluarga berada. Jangan sia-siakan perjuangan Umi,” kata Mbak Tutut menyebut Umi Waheeda binti Abdul Rahman, pimpinan Pondok Pesantren Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman (Islamic Boarding School).
Sementara itu, Umi Waheeda menyatakan rasa kekagumannya yang tinggi kepada Pak Harto. Menurut Umi, Pak Harto banyak berjasa kepada bangsa Indonesia dengan melakukan pembangunan di segala bidang yang menyejahterakan seluruh bangsa.
“Kita semua sangat berhutang budi. Saat Bapak Soeharto menjadi presiden, Indonesia bukan hanya berhasil dalam pembangunan dan menyejahterakan rakyatnya, tetapi juga menjadi negara yang disegani dunia,” kata Umi.
Pada saat itu, kata Umi, Indonesia bahkan berhasil mencapai swasembada beras yang diakui Badan Pangan Dunia (FAO), bukan justru banyak mengimpor beras dan merugikan para petani, rakyat.
Sebagai mantan warga negara Singapura, Umi menegaskan bahwa dirinya tahu betul bagaimana Pak Harto disegani di kawasan.
“Lee Kuan Yew, PM Singapura itu hanya takut sama Pak Harto!” kata Umi yang menggratiskan biaya belajar, biaya hidup dan aneka keperluan 15 ribu santrinya itu.
Di hadapan ribuan santri yang hadir memadati masjid besar itu, Umi menegaskan bahwa almarhum Abah Saggaf pernah menyatakan bahwa Pak Harto itu seorang yang diberkahi Allah.
Almarhum pernah bilang bahwa Pak Harto itu seorang yang sangat diberkahi (very very blessed man) yang sangat membela kaum Muslim dan menjadikan rakyatnya tak pernah lapar.
“Ingat, hungry man akan segera jadi angry man!” kata Umi.
Untuk diketahui, Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman didirikan pada 1998 oleh almarhum Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim. Pesantren itu lahir dari keprihatinan Habib Saggaf melihat banyak para remaja putus sekolah serta tidak mampu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena kemiskinan.
Sejak awal, memang pesantren ini menggratiskan semua hal yang berkaitan dengan keperluan para santri.
Pesantren yang namanya al-Ashriyyah berarti modern itu kini dikenal sebagai pesantren mandiri dengan 15 ribu santri dan 48 jenis usaha yang digeluti warga pesantren. Pesantren dengan area 25 hektare yang kini telah bekerjasama dalam bisnis fintek dengan menggandeng Bank Tabungan Negara dan Bank Indonesia itu bermula dari kobong bambu berukuran 3×4 meter sebagai asrama pertama.
(LIN)


