spot_imgspot_img
Senin 2 November 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sunat Massal Gratis Anak Cerebral Palsy, Billy Martasandy Tekankan Pentingnya Pendampingan Keluarga

BEKASI,FOKUSJabar.id: Berbagai elemen masyarakat menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesejahteraan anak berkebutuhan khusus.

Rumah Khitan Kak Topan, PT Martasandy Psychology Indonesia, komunitas BETACICI, dan ASDOKI menggelar Sunat Massal Gratis. Panitia menyelenggarakan kegiatan inklusif ini di Aria Family, Bekasi, Minggu (25/10/2026) lalu.

Baca Juga: 7.893 Anak di Kota Bandung Tidak Sekolah

Program ini menyasar anak-anak penyandang cerebral palsy (CP) dengan mengedepankan keselamatan medis dan kenyamanan peserta.

Director PT Martasandy Psychology Indonesia Billy Martasandy mendampingi langsung seluruh tahapan acara.

Billy menegaskan keterlibatan tim medis profesional menjamin setiap anak mendapatkan pemeriksaan fisik dan edukasi pra-tindakan.

Ia menilai pelayanan medis anak berkebutuhan khusus memerlukan dukungan emosional serta akses informasi bagi pihak keluarga.

“Kami memahami bahwa perjalanan keluarga yang memiliki anak dengan cerebral palsy bukanlah perjalanan yang sederhana. Orang tua tidak hanya membutuhkan akses terhadap pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan pendampingan, informasi, dan dukungan agar dapat memahami setiap kebutuhan anaknya,” ujar Billy, Senin (2/11/2026).

“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar menyelenggarakan sunat massal, melainkan juga menghadirkan kepedulian dan memastikan keluarga merasa tidak berjalan sendiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatan anak,” katanya menambahkan.

Syarat Medis Khusus dan Edukasi Daring Bagi Orang Tua

Billy mendorong penerapan pelayanan kesehatan yang fleksibel dan menghormati kondisi unik setiap anak.

“Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Kita tidak bisa menyamakan pendekatan pelayanan kesehatan untuk semua anak, terlebih bagi anak dengan cerebral palsy yang mungkin memiliki kebutuhan medis dan pendampingan khusus,” ujarnya.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa inklusivitas bukan hanya tentang memberikan kesempatan yang sama, tetapi juga tentang menyediakan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak,” jelasnya.

Tim medis menetapkan standar persyaratan medis ketat sebelum mengeksekusi tindakan khitan bagi anak penyandang CP.

Para orang tua peserta wajib mengikuti sesi edukasi daring seputar persiapan, risiko, dan perawatan pasca-khitan.

Langkah kolaboratif ini memadukan perspektif psikologi dan pelayanan medis demi menjaga Kesiapan emosional orang tua.

(Arif)

spot_img

Berita Terbaru