spot_imgspot_img
Jumat 16 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jamtani Soroti Krisis Regenerasi Petani Saat Hari Pangan Sedunia

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (Jamtani) memanfaatkan Hari Pangan Sedunia, Jumat (16/10/2026) untuk menyoroti krisis regenerasi petani.

Sempitnya penguasaan lahan, tingginya biaya produksi, serta rendahnya keuntungan membuat sektor pertanian kurang memikat pemuda.

Baca Juga: Wisata Edukasi Kopi Silalabak Pangandaran, Paket Mulai Rp10 Ribu

Direktur Jamtani, H. Kustiwa S. Adinata, mengungkapkan ketimpangan penguasaan lahan terjadi di berbagai wilayah Asia. Petani di Pulau Jawa rata-rata hanya menggarap lahan seluas 0,25 hingga 0,5 hektare.

“Bagaimana mungkin kita bisa sejahtera dengan luas lahan seperti itu?” kata Kustiwa di Babakan, Pangandaran, pada Jumat (16/10/2026).

Keterbatasan lahan membuat pendapatan petani sulit melonjak. Kondisi ini makin parah karena pihak luar mendominasi rantai bisnis pertanian.

Kustiwa membeberkan petani hanya menguasai 30 persen porsi ekonomi di sektor budidaya. Pihak luar menguasai 35 persen porsi sektor input serta 30 persen sektor pascapanen.

“Anak muda menilai sektor pertanian sudah tidak feasible dan tidak profitable lagi,” ujar Kustiwa.

Petani Wajib Kuasai Sektor Hulu Hingga Hilir

Jamtani mendorong kelompok tani menguasai rantai usaha dari hulu hingga hilir. Petani perlu mengelola penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran mandiri.

“Petani jangan hanya menjual bahan baku. Produk harus diolah menjadi barang jadi sehingga nilai tambahnya bisa dinikmati petani sendiri,” tegas Kustiwa.

Penguasaan rantai usaha terpadu ini mampu mendongkrak porsi keuntungan petani dari 30 persen menjadi 80 persen.

Pemerintah Wajib Sedikan Bantuan Modal dan Teknologi Modern

Kustiwa meminta pemerintah daerah memberikan dukungan nyata berupa insentif, anggaran, akses pembiayaan, serta pendampingan intensif.

Pertanian modern memerlukan investasi teknologi seperti Internet of Things (IoT), screen house, serta irigasi tetes yang ramah pemuda.

Pemerintah perlu menyediakan skema kredit terjangkau untuk menyokong kebutuhan modal teknologi tersebut.

Kustiwa mengingatkan agar instansi terkait mengawal bantuan fasilitas melalui pendampingan berkelanjutan di lapangan.

“Pemerintah jangan hanya memberikan bantuan, tapi juga harus melakukan pendampingan. Kalau tidak didampingi, bantuan itu bisa berubah bentuk,” pungkas Kustiwa.

Ia berharap momentum Hari Pangan Sedunia mampu menciptakan peta jalan regenerasi petani yang jelas dan menjamin masa depan ekonomi pemuda.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru