PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pemasangan papan petunjuk jalur evakuasi menuju Cagar Alam Pananjung Pangandaran menuai sorotan. Keberadaan petunjuk jalan tersebut mengancam keselamatan warga dan wisatawan saat potensi bencana tsunami mengintai.
Kawasan konservasi tersebut sejatinya berada di area rawan dampak gempa megathrust.
Baca Juga: Milangkala ke-14 Pangandaran Bakal Meriah, 68 Desa Siapkan Kreasi Ogoh-Ogoh
Kepala Resort KSDA Wilayah XXI Pangandaran Kusnadi menegaskan bahwa kawasan Cagar Alam maupun Taman Wisata Alam (TWA) tidak layak menjadi lokasi evakuasi.
“Menurut saya tidak layak karena masih di area berbahaya,” ujar Kusnadi di TWA Pangandaran, Selasa (13/10/2026).
Posisi Cagar Alam Terlalu Dekat Pantai
Kusnadi membeberkan letak Cagar Alam Pananjung persis di ujung kawasan Pantai Pangandaran.
Posisi cagar alam berdampingan langsung dengan TWA Pangandaran.
Faktor jarak kawasan konservasi yang sangat dekat bibir pantai menjadi alasan utama. Petunjuk evakuasi harus mengarahkan warga ke lokasi perbukitan yang lebih tinggi.
Bukit Cikamal sebenarnya memuat area titik kumpul aman dari empasan gelombang.
Namun, evakuasi menuju lokasi tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.
“Area titik kumpulnya kan di atas, di Bukit Cikamal yang ada banteng. Sedangkan pengunjung adanya di TWA dan pantai,” katanya.
Kusnadi mengingatkan petugas agar menata ulang rute evakuasi secara cermat.
“Artinya, cagar alam tidak memungkinkan menjadi tempat evakuasi saat terjadi tsunami, apalagi megathrust,” ucap Kusnadi.
Pelajaran Berharga Bencana Tsunami 2006
Tragedi tsunami Pangandaran tahun 2006 silam memberikan pelajaran berharga bagi penataan mitigasi bencana.
Kusnadi mengingat hanya sebagian kecil warga yang berlari menuju cagar alam saat gelombang menerjang.
“Waktu itu cuma satu dua yang lari melakukan evakuasi ke cagar alam. Kebanyakan orang yang ada di dalam kawasan itu larinya ke dalam,” ujarnya.
Masyarakat dan wisatawan yang berada di bibir Pantai Pangandaran justru memilih berlari menjauhi pantai.
(Sajidin)



