spot_imgspot_img
Rabu 30 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pasar Induk Bogor Pangandaran Sepi, Keramaian Cuma Bertahan 6 Bulan

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Suasana Pasar Induk Bogor di Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kini tampak sangat lengang. Padahal, pengelola dan para pedagang sempat mencatatkan masa kejayaan saat awal pembukaan pasar pada 2018 lalu.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, Rabu (30/9/2026), lorong-lorong Pasar Induk Bogor menyajikan pemandangan yang sepi. Deretan kios dan los memang masih berdiri kokoh di kedua sisi, namun sebagian besar pemiliknya sudah membiarkan bangunan tersebut terbengkalai tanpa penghuni.

Baca Juga: Sempat Ramai 80 Persen, Pasar Induk Bogor Pangandaran Kini Ditinggal Pedagang

Deretan pintu kios terlihat terkunci rapat. Hanya segelintir pedagang yang membulatkan tekad untuk tetap mengadu nasib, salah satunya Siti, seorang pedagang daging ayam. Ia masih menggelar lapaknya setiap hari hingga pukul 17.00 WIB.

Siti mengaku memilih bertahan karena masih mengandalkan sejumlah pelanggan setia yang rutin membeli dagangannya.

Ia menceritakan bahwa kondisi pasar saat ini berubah total jika membandingkannya dengan masa awal pengoperasian.

“2018 di sini sempat ramai. Hampir 80 persen keisi,” kata Siti saat memberikan keterangan di lokasi.

Siti menuturkan bahwa keramaian Pasar Induk Bogor kala itu hanya bertahan singkat, sekitar enam bulan. Memasuki bulan-bulan berikutnya, para pedagang mulai hengkang satu per satu seiring menyusutnya angka kunjungan pembeli.

Padahal, pada masa awal pengoperasian, pergerakan roda ekonomi di pasar tersebut berputar hampir 24 jam penuh tanpa henti.

“Kalau dulu dari pagi sampai malam masih ada aktivitas,” ujarnya.

Siti mengingat Minggu pagi sebagai momentum paling sibuk. Warga berbondong-bondong memadati lorong pasar untuk memborong kebutuhan rumah tangga, sementara para pedagang memenuhi seluruh sudut lapak.

Sewa Lapak Puluhan Juta Rupiah yang Kian Meredup

Siti telah menjajakan dagangannya sejak pasar modern ini pertama kali menyapa publik. Kala itu, ia memutuskan menyewa tempat berukuran 3 x 3 meter demi mengembangkan usahanya.

Siti mengungkapkan bahwa ia harus mengeluarkan biaya sewa lapak yang terbilang lumayan besar, yakni mencapai sekitar Rp65 juta.

Kini, pemandangan riuh tersebut sirna. Pemandangan pasar justru didominasi oleh deretan lapak kosong, dan pedagang hanya memanfaatkan sebagian kecil area pasar untuk aktivitas jual beli harian.

Warga Mengenang Masa Kejayaan Pasar

Masyarakat sekitar turut mengingat kejayaan Pasar Induk Bogor saat aktivitas perdagangan masih berada di puncaknya.

Seorang warga setempat, Heryani, menceritakan bahwa pedagang buah dan sayur segar dulu memadati area dalam pasar. Kualitas barang dagangan yang segar menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.

“Dulu buah sama sayurnya suka segar-segar. Sempat ramai banget dari pagi,” ujar Heryani.

Sayangnya, pemandangan segar itu kini tak lagi menghiasi area pasar.

Sebagian besar lapak tidak lagi berpenghuni. Di beberapa titik lorong, hanya pedagang kuliner kecil seperti penjual cilok, bakso, dan pecel yang mencoba mengais rezeki.

Kehadiran para pedagang makanan ringan ini belum mampu menghidupkan kembali keramaian lorong pasar seperti masa awal pembukaannya.

Kendati demikian, warga sekitar tidak membiarkan kawasan pasar mangkrak begitu saja. Warga rutin memanfaatkan pelataran pasar untuk berolahraga dan menggelar kegiatan senam bersama setiap Minggu pagi.

Di tengah kesunyian pasar, Siti terus bertahan. Setiap pagi ia membawa pasokan daging ayam segar dan dengan sabar menunggu kedatangan para pelanggan setianya.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru