PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Sejumlah warga Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar) melaporkan adanya partikel halus yang di duga merupakan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau,Senin (7/9/2026).
Dadang Herdiawan, warga Pangandaran mengaku merasakan kepulan abu vulkanik saat melakukan perjalanan dari Pamarican, Ciamis menuju Pangandaran.
BACA JUGA:
KKP Turun Tangan Usut Dugaan 6 SHM di Harim Laut Pantai Madasari Pangandaran
”Di sepanjang jalan terasa ada debu halus. Pas kena lampu kendaraan kelihatan beterbangan,” ujarnya.
Menanggapi laporan tersebut, Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi mengimbau masyarakat tetap waspada dan menyiapkan masker untuk mengantisipasi dampak terhadap pernapasan.
Menurutnya, hingga Senin siang belum ada laporan pasti mengenai abu vulkanik yang sudah mencapai wilayah Pangandaran.
”Untuk Pangandaran sementara belum banyak laporan adanya abu vulkanik,” ujar Dodo.
Dia menyebut, baru ada satu laporan dari warga yang mengaku melihat material menyerupai abu pada dedaunan. Namun, kondisi tersebut belum dapat di pastikan sebagai abu vulkanik dari Anak Krakatau.
”Memang ada satu warga yang saya terima laporannya. Katanya terlihat di dedaunan. Tapi sekarang kan musim kemarau, jadi memang selalu berdebu,” katanya.
Dodo memperkirakan jika abu vulkanik bergerak ke wilayah selatan Jawa Barat, penyebarannya kemungkinan hanya mencapai kawasan Ciamis.
BACA JUGA:
Karhutla di Ciganjeng Pangandaran Mencapai 10 Hektare
Kondisi angin di Pangandaran yang cukup kencang di nilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah sebaran abu.
”Untuk abu vulkanik kemungkinan hanya sampai ke wilayah Ciamis. Karena di Pangandaran anginnya kan kencang. Kalau ke Pangandaran belum, karena belum banyak laporan juga,” ucap Dodo.
Meski demikian, BPBD tetap meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi risiko.
”Takutnya sampai ke sini dan berdampak ke pernapasan. Kan bahaya, jadi disiapkan untuk pakai masker,” ujarnya.
Selain itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menyiagakan Puskesmas dan stok obat-obatan. Dinas Pendidikan juga diminta mengkaji opsi Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ jika paparan abu memburuk.
(Sajidin)



