PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Tumpukan topi caping atau dudukuy memenuhi teras sebuah rumah di Dusun Patinggen 1, Desa Karangpawitan Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar), Jumat (7/8/2026).
Di tangan belasan perempuan lanjut usia (lansia), tudung yang biasa di pakai ke sawah itu kini berubah wajah jadi atribut karnaval merah putih.
BACA JUGA:
Ganti Rugi Bangkai Tongkang Batu Bara di Pangandaran Belum Cair, Pemkab Tunggu Hitungan KLH
Satu per satu dudukuy di hias cat putih, rumbai merah putih hingga potongan kertas mengilap yang di tempel di pinggirannya. Sebagian juga di beri tulisan “KJP” berwarna merah sebagai identitas kelompok mereka.
Suasananya santai. Sambil ngobrol dan sesekali tertawa, jemari mereka telaten merekatkan setiap hiasan.
Bagi mereka, menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan hanya soal upacara atau lomba. Di usia senja, mereka tetap ingin ikut memeriahkannya.
”Minggu depan sebelum upacara 17 Agustus, di tingkat kecamatan ada gerak jalan, jalan santai, pawai karnaval. Kita ingin juga lah memeriahkan,” kata salah seorang perias Dudukuy.
Sekitar 10 lansia berkumpul sejak pagi di rumah rekannya. Ada yang mengoles lem, menggunting kertas, ada juga yang merapikan rumbai agar melingkar sempurna di tepi dudukuy.
Mereka sengaja memilih dudukuy karena benda itu dekat dengan keseharian. Hampir semua perias adalah perempuan yang terbiasa ke kebun dan sawah dengan dudukuy di kepala. Kini alat pelindung dari panas itu di sulap jadi simbol kebanggaan.
Agar tak membebani keluarga, mereka patungan Rp5.000 per orang. Uangnya di pakai beli lem dan kertas hias. Selebihnya memanfaatkan bahan yang ada di rumah.
”Ya kita patungan aja lima ribu rupiahuntuk beli lem dan kertas. Kalau yang lainnya itu kita manfaatkan yang ada di rumah,” ujarnya.
Semangat gotong royong terasa kuat. Tidak ada pembagian tugas kaku. Kalau ada yang kesulitan, langsung di bantu. Hasilnya pun tidak harus sama. Setiap dudukuy punya corak berbeda, tapi tetap dominan merah putih.
BACA JUGA:
Orang Tua yang Diduga Meninggalkan Bayi Perempuan Dicari Polres Pangandaran
Bagi mereka, proses menghias ini justru yang paling penting. Momen berkumpul dan bekerja bareng jadi cara menjaga kebersamaan di dusun.
Tradisi pawai karnaval tingkat kecamatan tiap tahun jadi alasan mereka tetap antusias. Meski sudah lansia, semangat untuk tampil tidak pernah padam.
Lewat dudukuy yang di hias sederhana itu, mereka ingin menunjukkan perayaan kemerdekaan tidak harus mewah. Perlengkapan bertani sehari-hari pun bisa jadi simbol cinta Indonesia saat di pakai pawai.
Dari teras sederhana di Dusun Patinggen 1, semangat kemerdekaan tumbuh dari tangan-tangan yang sudah lama akrab dengan sawah dan ladang.
(Sajidin)



