spot_imgspot_img
Rabu 29 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

“AI Bisa Menjawab, Tapi Tak Bisa Menggantikan Guru,” Gagasan Guru Pangandaran Ini Jadi Sorotan

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: “Teknologi tidak pernah menentukan masa depan suatu bangsa. Manusialah yang menentukan bagaimana teknologi itu digunakan.”

Kutipan mendalam tersebut keluar dari mulut Dian Eka Purnamawati, S.Pd.Gr., seorang tenaga pengajar di SMP Negeri 1 Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Baca Juga: Kronologi Dugaan Penipuan Berkedok Petugas PLN di Cimerak Pangandaran

Dian menilai pandangan tersebut terasa kian krusial saat lanskap pendidikan menghadapi serbuan pesat kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Kemampuan sistem AI saat ini sanggup memproses jawaban, merancang laporan, menerjemahkan bahasa, hingga menciptakan materi pembelajaran hanya dalam hitungan detik.

“AI membawa harapan sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi membuka peluang meningkatkan kualitas pendidikan. Di sisi lain memunculkan ketergantungan berpikir, menurunnya kreativitas, hingga persoalan etika akademik,” ujar Dian, Rabu (29/7/2026).

Pendidik asal Pangandaran ini menegaskan bahwa publik seharusnya tidak lagi memperdebatkan kelayakan AI di dalam kelas. Hal paling utama mendesak untuk dibahas adalah tata cara penggunaan serta pemegang kendali atas teknologi tersebut.

“Sebab AI hanyalah alat. Sama seperti buku atau internet, dampaknya tergantung manusia yang menggunakannya,” katanya.

Bahaya Penggunaan AI Tanpa Pendampingan

Dian mengamati para peserta didik era sekarang yang tergolong Generasi Alpha sudah terbiasa berdampingan dengan AI. Mereka sanggup mengoperasikan sistem AI untuk memaparkan materi, menyelesaikan soal, sampai menyusun presentasi lewat satu instruksi perintah (prompt).

“Respons kita sering ekstrem. Ada yang menolak total karena takut siswa malas berpikir. Ada yang membiarkan tanpa batas. Padahal pelarangan sulit karena siswa tetap akses AI di luar sekolah. Penggunaan tanpa pendampingan juga berbahaya,” jelas Dian.

Ia menekankan pentingnya menempatkan AI sebatas mitra belajar, bukan pengambil alih proses menuntut ilmu. Para siswa wajib menyaring dan memverifikasi setiap output informasi dari AI sebelum memanfaatkannya.

Menghadapi gelombang teknologi ini, Dian mengusulkan peran baru bagi pendidik, yaitu sebagai arsitek pembelajaran.

“Seorang arsitek merancang fondasi, menentukan tujuan, memilih material. Guru juga begitu. Mungkin bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tapi tetap satu-satunya yang mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna,” ujarnya.

Ia merinci tiga pilar pembeda mendasar antara kecerdasan buatan dan sosok pendidik:

  1. AI mampu memberi jawaban, sedangkan guru mengajarkan cara menemukan makna.
  2. AI mampu menulis teks, sedangkan guru menanamkan nilai kejujuran dalam berkarya.
  3. AI mampu membuat slide presentasi, sedangkan guru menumbuhkan keberanian menyampaikan ide.

“Teknologi mempercepat proses. Hanya guru yang bisa memanusiakan pendidikan,” kata Dian.

Human-Centered AI Learning Architecture (HAILA)

Guna mengarahkan penggunaan teknologi ini, Dian merancang model Human-Centered AI Learning Architecture (HAILA). Konsep ini mengusung lima tahapan utama: Design, Guide, Verify, Reflect, dan Create.

Penerapan HAILA terlihat jelas pada mata pelajaran Bahasa Inggris, di mana siswa terlebih dahulu menyusun recount text secara mandiri sebelum meminta masukan perbaikan dari AI. Hasil draf tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama guru.

Sementara pada pelajaran IPA, para siswa memformulasikan hipotesis awal berdasarkan pengamatan langsung, lalu membandingkannya dengan uraian penjelasan dari AI.

“Tujuannya agar AI jadi media refleksi, bukan jalan pintas. Yang berkembang bukan hanya pengetahuan, tapi juga berpikir kritis,” jelasnya.

Dian optimistis perubahan besar kualitas bangsa selalu bermula dari dinamika ruang kelas. Kedaulatan Indonesia membutuhkan SDM penguasa teknologi, sedangkan keadilan sosial menuntut pemerataan literasi AI bagi seluruh anak bangsa.

“AI bisa bantu sampaikan informasi. Tapi senyum guru, dorongan saat gagal, dan teladan sikap tidak bisa digantikan algoritma. Itu esensi pendidikan humanis,” tuturnya.

Di akhir penjelasannya, Dian menggarisbawahi bahwa laju perkembangan AI tidak mungkin terbendung. Hal paling krusial adalah memastikan guru tetap memegang kendali penuh atas penggunaan AI di lingkungan sekolah.

“Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh secanggih apa AI, tapi oleh seberapa bijaksana guru membimbing generasi muda menggunakannya,” pungkas guru SMPN 1 Mangunjaya itu.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru