CIAMIS,FOKUSJabar.id: Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Ciamis mulai mengalami krisis air bersih. Guna menjaga pasokan bagi warga, pemerintah daerah bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih ke beberapa titik terdampak, salah satunya di Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis.
Mengingat estimasi musim kemarau tahun 2026 ini berpotensi berlangsung cukup panjang, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis, Ani Supiani, mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat mulai mengubah pola konsumsi air harian.
Baca Juga: Mr Pulley Open Road Race Championship 2026 Ciamis jadi Magnet Pembalap Nasional
Pihak BPBD meminta warga menghemat penggunaan air bersih secara ketat. Selain itu, Ani mendorong warga agar aktif mencari titik-titik mata air alternatif yang masih mengalir di sekitar lingkungan mereka.
Waspada 5 Ancaman Penyakit Akibat Kekeringan
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ciamis, dr. Eni Rochaeni, memberikan imbauan kesehatan demi keselamatan warga.
Menurut dr. Eni, kondisi lingkungan yang kering dan minimnya ketersediaan air bersih menciptakan ekosistem yang ideal bagi penyebaran sejumlah penyakit berbahaya. Pihak Dinkes memetakan lima penyakit utama yang wajib masyarakat waspadai:
- Diare dan Gangguan Pencernaan: Muncul karena warga terpaksa menggunakan air yang tidak higienis untuk konsumsi dan mencuci peralatan makan.
- Penyakit Kulit (Dermatitis/Scabies): Terjadi akibat berkurangnya frekuensi mandi warga serta penggunaan air tercemar untuk sanitasi diri.
- Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Dipicu oleh paparan debu yang meningkat di udara serta penurunan daya tahan tubuh akibat cuaca ekstrem.
- Demam Berdarah Dengue (DBD): Meskipun air terbatas, wadah penampungan air bersih (seperti ember) yang terbuka saat kemarau justru kerap menjadi tempat favorit nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur.
- Dehidrasi dan Heat Exhaustion: Terjadi karena tubuh terpapar panas ekstrem secara berkepanjangan tanpa kecukupan asupan cairan.
Tips Menjaga Pola Aktivitas di Tengah Cuaca Ekstrem
Guna meminimalisir risiko gangguan kesehatan tersebut, dr. Eni meminta masyarakat menyesuaikan pola hidup harian melalui tiga langkah taktis berikut:
1. Manajemen Air Bersih
- Prioritaskan Konsumsi: Alokasikan air bersih hanya untuk minum dan kebutuhan mendesak. Gunakan sumber air sekunder yang masih layak untuk keperluan lain seperti mencuci.
- Masak Hingga Mendidih: Pastikan warga memasak air minum hingga mendidih sempurna guna membunuh kuman dan patogen.
- Saring Air Keruh: Lakukan pengendapan atau penyaringan sederhana sebelum memasak air jika kondisinya terlihat keruh.
2. Higiene dan Sanitasi
- Gunakan Hand Sanitizer: Jika persediaan air sangat menipis, manfaatkan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) sebagai alternatif pengganti cuci tangan konvensional.
- Jaga Kebersihan Makanan: Hindari membeli makanan yang tidak tertutup atau jajanan pinggir jalan yang rentan terpapar debu.
3. Aktivitas di Luar Ruangan
- Batasi Jam Puncak Panas: Hindari aktivitas fisik yang berat di luar ruangan antara pukul 10.00 hingga 15.00 WIB, saat suhu udara dan indeks UV mencapai titik tertinggi.
- Rutin Minum Air: Minumlah air secara berkala dalam jumlah kecil namun sering tanpa harus menunggu rasa haus datang.
- Gunakan Pelindung Fisik: Kenakan pakaian yang longgar dan berwarna terang, serta gunakan topi atau payung untuk menghalau sengatan matahari langsung.
Jaga Kelompok Rentan, Jangan Tunda ke Puskesmas
Pihak Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa keselamatan dan kesehatan keluarga menjadi tanggung jawab bersama, terutama saat alam sedang tidak bersahabat.
“Kesehatan adalah aset utama, terutama saat lingkungan sedang tidak bersahabat. Saat air sulit didapat, keamanan air yang kita konsumsi menjadi tanggung jawab utama keluarga,” tegas dr. Eni.
Ia juga meminta warga untuk tidak ragu membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mendapati gejala penyakit yang memburuk.
“Jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika anggota keluarga mengalami gejala lemas ekstrem, diare berkepanjangan, atau demam tinggi. Jangan menunggu kondisi memburuk, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia,” pungkasnya.
(IrfansyahRiza)



