GARUT, FOKUSJabar.id: Puluhan petani di Desa Cibunar Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut Jawa Barat (Jabar) mengalami gagal panen. Bagaimana tidak, sekitar 30 hektare sawah padi mereka rusak dan tidak bisa di panen akibat kekeringan selama satu bulan terakhir.
Kerugian yang di alami petani sekitar Rp100 juta. Musim Tanam (MT) II, Mei-Juni 2026 menjadi salah satu yang terberat bagi petani Desa Cibunar.
BACA JUGA:
Budi Rahadian: HUT ke-80 Bhayangkara jadi Titik Penguatan Profesionalisme Polri
“Air kering, tanaman padi mati sebelum berbuah,” kata Petani Kampung Salam Desa, RW11 Desa Cibunar, H. Juharya, Rabu (1/7/2026).
Menurut Dia, lahan pertanian di Desa Cibunar merupakan lahan tadah hujan, salah satunya Blok Cilok. Sehingga Ketika musim kemarau tiba tidak bisa di tanami.
“Saat ini tak ada hujan. Tanaman Padi umur satu bulan langsung menguning,” ungkapnya.
Kondisi tersebut di benarkan petani lainnya, Asep. Dia menyebut, gagal panen paling parah terjadi di lahan tadah hujan dan sawah yang jauh dari sumber air.
Gagal panen memukul ekonomi warga. Banyak petani terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan bayar utang pupuk.
“Kami tidak bisa berbuat banyak. Untuk biaya hidup sehari-hari ada yang beralih menjadi buruh dan urbanisasi,” kata Asep.
Petani Desa Cibunar berharap, pemerintah mengalokasikan anggaran pembuatan sumur dangkal agar tak lagi kesulitan air saat musim kemarau.
“Satu-satunya harapan kami, pemerintah membuat sumur dangkal,” tegas Asep.
BACA JUGA:
Arti dan Makna Logo Wanoja Gatra Spirit of Limbangan Ngadaun Ngora
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung lebih kering dan berdurasi lebih panjang.
Puncak musim kemarau di perkirakan terjadi pada bulan Juli hingga September 2026. Dengan dampak terluas di proyeksikan pada bulan Agustus.
Berikut rincian prediksi BMKG:
Awal musim kemarau mulai telah di mulai secara bertahap sejak April hingga Juni 2026.
Awal musim kemarau ini di prediksi datang lebih awal di sebagian besar wilayah.
Faktor pemicu adanya indikasi fenomena El Niño yang mulai aktif pada pertengahan tahun memicu kondisi menjadi lebih kering dan panas.
Masyarakat di imbau untuk memperkuat antisipasi ketersediaan air bersih dan bersiap menghadapi risiko kekeringan maupun Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
(Bambang Fouristian)



