BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung langsung tancap gas mengintervensi lima Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang mengalami penumpukan sampah paling kritis. Pemerintah mengambil langkah darurat ini menyusul lonjakan volume sampah yang tak tertampung akibat macetnya proses pengangkutan dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menyebut lima titik merah yang menjadi fokus utama jajarannya meliputi TPS Ciwastra, Batu Nunggal, Kopo Elos, Dago Elos, dan Babakan Siliwangi. Tim DLH memilih kelima lokasi tersebut setelah hasil pendataan lapangan menunjukkan grafik tumpukan sampah yang paling mengkhawatirkan.
Baca Juga: Kejari Bandung Hentikan Perkara Erwin, Ini Kata Waketum DPN Peradi
Darto menjelaskan bahwa badai krisis sampah ini tidak hanya melanda Kota Kembang, tetapi juga mencekik wilayah lain di kawasan Bandung Raya. Menyikapi situasi darurat ini, pemerintah provinsi menginstruksikan setiap kabupaten dan kota untuk menyetorkan daftar TPS prioritas yang membutuhkan evakuasi cepat.
“Kondisi di lapangan memang cukup berat. Pasca pengangkutan sampah di TPS Ciwastra, ternyata persoalan tidak hanya terjadi di Kota Bandung, tetapi juga di kabupaten/kota lain di Bandung Raya. Dalam rapat terungkap bahwa masih banyak sampah yang menumpuk, terutama di TPS yang belum terangkut,” kata Darto, Jumat (5/6/2026).
Darto mengungkapkan bahwa awalnya tim mengestimasikan total akumulasi sampah pada lima TPS prioritas tersebut berada di angka 1.200 ton. Sayangnya, proses verifikasi faktual di lapangan memecahkan prediksi awal karena jumlah riil di lapangan jauh lebih raksasa.
Kasus di TPS Ciwastra menjadi bukti nyata melesetnya prediksi tersebut. Dari hasil timbangan teranyar, gunungan sampah di TPS Ciwastra sendiri sudah menyentuh angka hampir 900 ton, melesat tinggi dari perkiraan awal yang hanya berkisar 700 ton.
“Awalnya dari lima TPS utama itu diperkirakan sekitar 1.200 ton. Namun setelah dicek di lapangan, ternyata satu TPS saja, yakni Ciwastra, volumenya hampir mencapai 900 ton. Jadi memang kondisinya lebih berat dari perkiraan,” urai Darto.
Total Sampah Bandung Tembus 2.800 Ton, Evakuasi Bertahap
Darto meluruskan persepsi publik bahwa angka 1.200 ton tersebut bukanlah jatah kuota tambahan pembuangan menuju TPA Sarimukti di Bandung Barat. Volume tersebut murni representasi dari hasil kalkulasi berat sampah yang mengendap di lima TPS paling kritis.
Di sisi lain, DLH juga terus memetakan kondisi puluhan TPS sekunder lainnya yang tersebar di seantero Kota Bandung. Berdasarkan data kompilasi sementara, total tumpukan sampah yang mengepung Kota Bandung saat ini sukses menyentuh angka fantastis, yakni 2.800 ton.
Mengingat volume yang terlampau masif, Darto menegaskan bahwa armada truk sampah tidak mungkin menyapu bersih seluruh limbah tersebut dalam satu waktu sekaligus.
“Selain lima TPS prioritas, TPS lainnya juga kira data dan total perkiraan tumpukan sampah di Kota Bandung mencapai sekitar 2.800 ton. Tentu jumlah itu tidak mungkin petugas angkut sekaligus. Maka yang menjadi prioritas adalah TPS dengan kondisi paling berat terlebih dahulu,” pungkasnya.
Melalui strategi penanganan skala prioritas ini, DLH Bandung berharap dapat mengurai sumbatan sampah di jalur hilir secara perlahan. Sembari menunggu normalisasi ritasi pengiriman ke TPA Sarimukti kembali pulih 100 persen.
(Yusuf Mugni)



