TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Pancasila di nilai tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, serta dinamika sosial yang terus berkembang.
Akademisi Tasikmalaya, Dr Basuki Rahmat menegaskan, relevansi Pancasila hingga saat ini tidak terlepas dari fleksibilitas nilai-nilainya. Yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurut Basuki, Pancasila merupakan ideologi terbuka yang tidak bersifat kaku. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap mampu memberikan arah dan pedoman etis bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan modern.
Baca Juga: Inilah Target BPR Artha Sukapura Tasikmalaya Setelah Adanya Dewas
“Pancasila memiliki kemampuan untuk menjembatani perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Karena itu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai pedoman kehidupan berbangsa,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Di era digital, Basuki menilai Pancasila berperan sebagai kompas moral dalam penggunaan media sosial.
Sila Kedua dan Sila Keempat, menurutnya, menjadi landasan penting untuk membangun budaya komunikasi yang beradab dan bertanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mengedepankan musyawarah serta menekan penyebaran hoaks. Ujaran kebencian dan berbagai bentuk disinformasi yang marak terjadi di ruang digital.
Selain itu, ia menegaskan Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, tetap menjadi perekat utama kemajemukan bangsa.
Persatuan Sangat Penting
Di tengah meningkatnya polarisasi dan pengaruh globalisasi, nilai persatuan di nilai sangat penting. Untuk menjaga semangat toleransi dan memperkuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Keberagaman suku, agama, ras, dan budaya harus menjadi kekuatan bangsa. Pancasila memberikan ruang bagi perbedaan sekaligus menjaga persatuan nasional,” katanya.
Basuki juga menyoroti pentingnya Sila Kelima sebagai pedoman dalam menghadapi ketimpangan sosial dan ekonomi.
Menurutnya, prinsip keadilan sosial harus menjadi dasar bagi berbagai kebijakan pembangunan. Agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat di rasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan dan masyarakat kecil.
Lebih jauh, ia menilai pembangunan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata.
Baca Juga: Dosen STHG Tasikmalaya: Pancasila Harus jadi Etika di Era Digital
Nilai-nilai yang terkandung dalam Sila Pertama dan Sila Kedua harus menjadi landasan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Berwawasan lingkungan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Basuki menegaskan, Pancasila merupakan living ideology atau ideologi yang hidup. Artinya, nilai-nilai dasarnya dapat terus di kontekstualisasikan untuk menjawab berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan esensi dan identitas kebangsaan Indonesia.
“Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, tetapi pedoman yang terus hidup dan relevan. Untuk menjawab persoalan masa kini maupun masa depan,” ucapnya.
(Farhan K)



