TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Aliansi Pers Mahasiswa (APM) Priangan Timur menggelar diskusi bertajuk “Nyemah Atikan Penyiaran” di Ballroom Bale Priangan, Gedung Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026). Forum ini merespons kian tergerusnya nilai-nilai seni dan budaya lokal akibat gempuran konten pragmatis di berbagai platform media sosial.
Ketua APM Priangan Timur, Muhamad Irvan Ukasah, menegaskan bahwa forum ini bertujuan melahirkan gagasan konkret agar konten budaya lokal, khususnya bahasa Sunda, mampu bersaing dengan arus algoritma global. Ia mengajak seluruh elemen untuk tidak sekadar berdiskusi, tetapi bergerak bersama mengangkat potensi budaya daerah ke ruang digital.
Baca Juga: Sidak DPRD Kota Tasikmalaya, 97 Persen Dapur MBG Ternyata Belum Berizin
“Budaya lokal memiliki nilai besar untuk tampil di media sosial. Tugas kita sekarang adalah membuka peluang lebih lebar agar konten lokal mendapat tempat utama di platform penyiaran dan medsos,” ujar Irvan.
Alarm Rendahnya Konten Budaya
Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Andiyana Slamet, mengungkap data mengkhawatirkan mengenai rendahnya indeks konten budaya di wilayah penyiaran Jawa Barat. Ia menilai kondisi ini sebagai alarm bagi lembaga penyiaran, pemerintah, dan komunitas untuk segera bertindak.
Andiyana juga mengingatkan bahwa konten media sosial saat ini cenderung mengikis tatanan sosial dan semangat gotong royong. Berdasarkan survei Lemhannas dan KPID Jabar, budaya kolektif mulai tergantikan oleh tren fomo dan konten viral sesaat yang individualis.
“Kita harus menjadikan nilai kearifan lokal sebagai pembeda di tengah banjirnya konten medsos yang materialistis. Ini tantangan besar bagi Pers Mahasiswa untuk melestarikan jati diri daerah,” tegas Andiyana.
Dukungan Pemerintah dan Regulasi
Tim Peningkatan SDM Diskominfo Jawa Barat, Siti Masliah Hayati, mendorong hadirnya regulasi yang memberi ruang bagi konten lokal tanpa harus bersifat kaku. Ia menyarankan penguatan literasi produksi dan kolaborasi dengan kreator muda sebagai jalan keluar agar budaya daerah tidak terus tertinggal.
Senada dengan hal itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, mengapresiasi langkah mahasiswa dan menyatakan kesiapan pemerintah untuk berkolaborasi. Menurutnya, penyiaran konten budaya adalah upaya menjaga identitas bangsa agar generasi mendatang tetap mengenal asal-usul mereka.
Tiga Rumusan Strategis
Diskusi dalam acara ini mengerucut pada tiga poin utama:
- Afirmasi Regulasi: Mendorong lembaga penyiaran memberikan porsi khusus bagi muatan lokal.
- Peningkatan SDM: Membekali pers mahasiswa dan komunitas dengan kemampuan memproduksi konten berkualitas.
- Sinergi Ekosistem: Membangun kolaborasi antara pemerintah, kampus, KPID, dan kreator agar konten lokal tumbuh berkelanjutan.
APM Priangan Timur berkomitmen menjadikan agenda ini sebagai kegiatan rutin guna memastikan seni dan nilai Sunda tetap hidup di ruang digital yang digandrungi generasi muda.
(Seda)



