spot_imgspot_img
Jumat 17 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pentas Budaya ‘Ngarumat Hulu Cai 2026’ di Kota Tasikmalaya, Peringatan Keras untuk Para Perusak Lingkungan

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Peringatan Hari Bumi di Kota Tasikmalaya tahun ini tampil beda melalui gerakan budaya bertajuk “Ngarumat Hulu Cai 2026”. Bersama warga dan komunitas lingkungan, para pegiat budaya menyuarakan kritik terbuka atas kondisi kawasan hulu yang kian memprihatinkan akibat degradasi lingkungan, Jumat (17/4/2026).

Ketua Dewan Kebudayaan dan Kesenian Tasikmalaya (DKKT), Tatang Pahat, menegaskan bahwa menyusutnya tutupan vegetasi di kawasan hulu telah melemahkan daya serap tanah. Kondisi ini memicu penurunan debit mata air yang menjadi alarm nyata bagi ancaman krisis air di wilayah hilir.

Baca Juga: HUT ke-80, Persit Kodim 0612/Tasikmalaya Hijaukan Bumi

“Leluhur Sunda sudah lama mengingatkan bahwa hutan yang rusak akan menghabiskan air dan menyengsarakan manusia. Namun, pesan ini sering kali kalah oleh nafsu pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan,” ujar Tatang.

Desak Evaluasi Tata Kelola Lingkungan

Tatang menilai kerusakan hulu terjadi akibat akumulasi pembiaran, alih fungsi lahan tanpa kendali, serta lemahnya pengawasan di kawasan resapan air. Ia menuntut Pemerintah Kota Tasikmalaya dan DPRD untuk segera melakukan evaluasi serius terhadap kebijakan dan alokasi anggaran lingkungan yang selama ini belum optimal.

Masyarakat kini mendesak pemerintah agar tidak berhenti pada kehadiran seremonial semata. Warga menuntut langkah terukur seperti moratorium alih fungsi lahan di zona resapan, audit perizinan di hulu, hingga alokasi anggaran pemulihan ekosistem yang transparan.

“Krisis ini bukan peristiwa tiba-tiba. Kami menagih langkah tegas pemerintah untuk menegakkan regulasi dan memperkuat pengawasan agar risiko krisis air tidak menjadi kenyataan yang mengancam kehidupan,” tegasnya.

Agenda Puncak di Mata Air Gedong Cai

Panitia menjadwalkan puncak acara “Ngarumat Hulu Cai” pada Rabu, 22 April 2026, bertepatan dengan Hari Bumi. Kegiatan akan berpusat di Mata Air Gedong Cai, Gunung Kokosan, Kecamatan Bungursari. Rangkaian acara meliputi:

  • Kirab Budaya: Mengelilingi Kota Tasikmalaya untuk membangun kesadaran kolektif warga.
  • Ritual Doa: Mengembalikan rasa hormat manusia terhadap alam sebagai amanah kehidupan.
  • Aksi Bersih & Tanam Pohon: Melakukan pembersihan kawasan hulu dan menanam bibit pohon penyimpan air.
  • Pertunjukan Seni: Mengikat pesan ekologis melalui ekspresi budaya lokal.

Tatang menjelaskan bahwa ritual dalam agenda ini bukan bertujuan untuk mistifikasi, melainkan untuk menempatkan perusakan lingkungan sebagai pengingkaran amanah spiritual, bukan sekadar pelanggaran administratif.

“Kami ingin mengembalikan Hari Bumi sebagai momentum perubahan nyata, bukan panggung sandiwara di balik spanduk dan foto bersama. Merawat hulu berarti merawat masa depan kita bersama,” pungkas Tatang.

(Seda)

spot_img

Berita Terbaru