spot_imgspot_img
Selasa 14 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Rahasia Tahu Cibuntu H. Imin, Bertahan 18 Tahun di Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id:  Di tengah serbuan makanan instan dan tahu pabrikan yang diproses secara masal, sebuah sudut di Babakan Karangkawitan, Mangkubumi, masih setia dengan kepulan asap dari tungku kayu. 

Adalah H. Imin, sosok di balik legendarisnya Tahu Cibuntu, yang telah mendedikasikan hidupnya menjaga kualitas tahu tradisional sejak tahun 2008.

​Bukan sekadar tahu biasa, racikan H. Imin adalah simbol perlawanan terhadap bahan kimia. Saat banyak produsen beralih ke pewarna sintetis demi menekan biaya, H. Imin tetap teguh pada warisan leluhur, kunyit murni.

Baca Juga: Bank Galunggung Tasikmalaya, Borong 3 Penghargaan Bergengsi

Mengapa Tahu Cibuntu H. Imin Begitu Istimewa?

​Ada alasan kuat mengapa pedagang dari Pasar Cikurubuk hingga pelosok Kabupaten Tasikmalaya rela mengantre sejak subuh. Berikut adalah keunggulan yang membuat Tahu Cibuntu tetap juara.

​Pewarna Alami dan Sehat: Menggunakan kunyit asli yang memberikan warna kuning cerah, aroma sedap, dan manfaat kesehatan bagi konsumen.

​Tekstur Premium: Lembut di dalam namun kokoh saat dimasak, dengan rasa gurih alami kedelai pilihan.

​Standar Higienitas Tinggi: “Air harus mengalir dan tempat harus rapi,” tegas H. Imin. Prinsip ini menjaga tahu agar tidak cepat asam tanpa perlu pengawet.

​Produksi Ramah Lingkungan: H. Imin telah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mandiri agar sisa produksi tidak mencemari lingkungan sekitar.

​Terhimpit “Badai” Harga Kedelai dan Plastik

​Namun, dedikasi terhadap kualitas bukan tanpa tantangan. Dalam dua bulan terakhir, H. Imin harus memutar otak lebih keras. Harga kedelai impor yang meroket dari Rp9.500 menjadi Rp11.000 per kilogram menjadi pukulan telak.

​”Kalau kedelai naik, modal langsung bengkak. Kita mau naikkan harga tahu, pelanggan protes. Tidak dinaikkan, kita yang tekor,” ungkap H. Imin dengan nada getir.

​Beban produksi makin berat karena harga plastik pembungkus yang melonjak drastis dari Rp700 ribu menjadi Rp1 juta per bal. 

Meski margin keuntungan makin menipis, H. Imin memilih untuk memangkas kuantitas produksi (dari 2 kuintal menjadi 1,5 kuintal per hari) daripada harus mengorbankan kualitas bahan baku.

Masa Depan UMKM Tahu Tradisional

​Di usia usahanya yang menginjak 18 tahun, H. Imin adalah potret nyata ketangguhan UMKM Tasikmalaya. Baginya, kejujuran adalah kunci utama agar pelanggan tidak lari.

Baca Juga: Tanaman Sacha Inchi di Kawalu Dilirik Pemkot Tasikmalaya

​Saat ini, ia menjual tahu kuningnya seharga Rp7.000 per bungkus (isi 10 potong) untuk tingkat pengecer. Sebuah harga yang ia pertahankan mati-matian demi menjaga loyalitas pelanggan setianya.

H. Imin berharap adanya langkah nyata dari pemerintah terkait,Stabilisasi harga kedelai agar perajin skala rumah tangga tidak gulung tikar. Akses kedelai lokal yang lebih terjangkau. Dan solusi kemasan alternatif yang lebih ekonomis namun tetap higienis dan ramah lingkungan.

​Tahu Cibuntu racikan H. Imin bukan hanya soal rasa, tapi soal integritas. Dari sebuah dapur sederhana di Mangkubumi, ia membuktikan bahwa produk tradisional yang dikelola dengan hati, kebersihan, dan kepedulian lingkungan akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru