TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Siapa sangka, limbah yang selama ini mencemari lingkungan kini menjelma menjadi sumber energi murah dan solusi ketahanan bencana alam.
Inilah gebrakan revolusioner dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Galuh (Unigal) Ciamis di Desa Tanjungsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
BACA JUGA:
Lapas Ciamis dan Unigal Latih Warga Binaan Olah Bayam Jadi Produk Bernilai Jual
Bukan sekadar program pengabdian biasa, inisiatif bertajuk “Pengembangan Sistem Energi Hibrida sebagai Solusi Mitigasi Longsor” ini adalah cetak biru sempurna dari ekonomi sirkular yang mengubah buangan menjadi berkah.
Program tersebut diluncurkan pada 10 November 2025 di Aula Kantor Desa Tanjungsari yang dihadiri Rektor Unigal, Dedi.
Program ini memberikan jawaban atas tiga tantangan utama. Yakni, energi, ekonomi dan lingkungan.
Tungku Mobile Bahan Bakar Jelantah
BEM Unigal memilih Desa Tanjungsari menjadi pilihan dalam program tersebutkarena sering terisolasi saat longsor, memutus akses jalan dan listrik.
Selain itu, Industri Rumah Tangga (IRT) Berkah Mandiri produsen keripik menghadapi kendala setiap hari, beban biaya operasional tinggi dan tumpukan limbah minyak jelantah.
Ketergantungan pada LPG membuat margin keuntungan IRT tergerus.
Tim multidisiplin BEM Universitas Galuh yang melibatkan 20 mahasiswa dan dosen ahli datang membawa Tungku Mobile berbahan bakar limbah minyak jelantah.
Dosen Unigal, Ade Hediana berhasil menciptakan dan mematenkan kompor bergerak yang kini menjadi idola baru pelaku IRT.
BACA JUGA:
Mahasiswa Unigal dan Bapenda Ciamis Gencarkan Sosialisasi Pajak di Desa Sukawening
”Satu liter jelantah bisa menghidupkan kompor selama 1-2 jam. Ini luar biasa membantu IRT karena efisiensinya. Penggantian LPG dengan jelantah diperkirakan mampu membuat IRT hemat biaya bahan bakar hingga 70 persen,” jelas Ade Hediana.
Bayangkan, penghematan tersebut langsung memompa keuntungan IRT. Limbah jelantah yang sebelumnya dianggap racun lingkungan, kini menjadi “emas cair” yang menyetabilkan keuangan bisnis rumahan.
Menjadi Produsen Sekaligus Pengelola Limbah
Inovasi Universitas Galuh tidak hanya berhenti pada bahan bakar. Di bawah arahan Ketua Tim, Erlan Suwarlan, menciptakan siklus tertutup ekonomi sirkular yang sempurna.
BEM Unigal menyalurkan bantuan mesin peniris minyak (spinner), yang berfungsi ganda. Yakni, mengurangi kadar minyak pada keripik, menjadikannya lebih sehat sekaligus menghasilkan jelantah yang lebih siap untuk didaur ulang.
Limbah Jadi Cuan
Sisa limbah jelantah yang tidak digunakan untuk bahan bakar diolah menjadi produk bernilai jual tinggi. Masyarakat dilatih membuat lilin aromaterapi dan sabun cuci.
Ini membuka sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Siaga Bencana Tanpa Padam
Selain IRT, Karang Taruna Desa Tanjungsari juga menjadi fokus penguatan. BEM Unigal membangun Posko Kebencanaan Mandiri Energi sebagai pusat ketahanan desa.
Panel Surya, menjamin pasokan listrik mandiri untuk komunikasi dan penerangan, vital saat pemadaman listrik pascalongsor.
Running Text, Berfungsi sebagai sistem peringatan dini bencana dan media informasi cepat.
BACA JUGA:
Ribuan Mahasiswa Unigal Laksanakan KKN di Ciamis dengan Fokus Budaya dan Konservasi
Konsep energi hibrida terealisasi ketika tungku mobile berbahan bakar jelantah juga ditempatkan di posko, siap dioperasikan sebagai dapur umum darurat menggunakan bahan bakar limbah yang tersedia melimpah di desa.
Anggota Karang Taruna juga dibekali pelatihan intensif mitigasi bencana dan kewirausahaan sosial.
Menuju Desa Berkelanjutan dan Mandiri Energi
Program ini berjalan selama Agustus-Desember 2025 telah membuktikan, akademisi mampu menjadi motor penggerak ketangguhan masyarakat.
Limbah jelantah kini memiliki peran sentral sebagai sumber energi, bahan baku produk dan pendukung kesiapsiagaan bencana.
”Kami tidak hanya memberikan teknologi, tetapi memberdayakan mitra untuk mengelolanya secara mandiri dan berkelanjutan. Ini adalah bukti nyata kontribusi akademisi,” kata Erlan Suwarlan.
BACA JUGA:
DPMPTSP Ciamis Gandeng Unigal Bahas Raperda Kemitraan Berusaha
Rektor Universitas Galuh, Dadi berharap, masyarakat Desa Tanjungsari mampu mengembangkan potensi dengan adanya inovasi ramah lingkungan.
“Saya berharap Desa mengembangkan inovasi atau mengembangkan inovasi yang sudah diciptakan Unigal. Kami siap mendukung pemerintah desa atau masyarakat untuk bersama-sama maju,” katanya.
BEM Universitas Galuh memberikan pelatihan secara intensif terkait penggunaan berbagai alat inovasi teknologi kepada masyarakat.
Dan juga bagaimana cara memanfaatkan limbah jelantah untuk bahan bakar, sabun dan lilin yang bernilai tinggi.
Program BEM Unigal selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama energi bersih dan terjangkau serta konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab.
Dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, kisah Desa Tanjungsari ini akan didokumentasikan untuk menjadi model replikasi nasional.
Desa Tanjungsari kini bukan hanya siaga terhadap longsor, tetapi telah bertransformasi menjadi percontohan ekonomi sirkular yang mandiri energi.
Semua itu berkat inovasi limbah jelantah dari Universitas Galuh.
(Abdul)


