spot_img
Rabu 19 Juni 2024
spot_img
More

    Hakim Vonis 10 Tahun Bui Guru Ngaji Yang Sodomi Santri Ciamis, Kuasa Hukum Minta Perlindungan Untuk Korban

    CIAMIS,FOKUSJabar.id: Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ciamis memvonis terdakwa kasus sodomi kepada santri di Lingkungan Pesantren di Ciamis dengan hukuman 10 tahun penjara  dengan denda 100 Juta Rupiah (subsider 3 bulan kurungan), Rabu (6/6/2024).

    Terdakwa AR yang merupakan warga Kampung Ciwarak kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat melakukan aksi bejatnya tersebut kepada 11 santri tempat dimana dirinya mengajar pada tahun 2023 lalu. 

    Salah seorang orang tua korban Aciw mengapresiasi dengan putusan hakim yang memberikan hukuman penjara 11 tahun kepada terdakwa, akan tetapi dirinya merasa tidak puas karena hingga saat ini tidak ada upaya yang jelas untuk menyembuhkan mental para korban. 

    BACA JUGA: Warga Lakbok Ciamis Hilang Terseret Aliran Sungai Citanduy

    “Putusan hakim tidak bisa membayar rasa sakit hati saya sebagai orang tua. Kita menitipkan anak di pondok pesantren itu agar berbakti dan pintar akan tetapi perlakuan dari oknum guru itu malah sebaliknya,” kata Aciw. 

    Ia menuturkan, setelah putusan pengadilan pihaknya menyerahkan kepada kuasa hukum, untuk mengurusi langkah perlindungan trauma healing kepada para korban. Karena saat ini pasca kejadian bejat tersebut ada perubahan sikap dari korban.  

    “Kejadian ini menjadi cambuk bagi kita sebagai orang tua tapi kita juga harus bisa melindungi anak kita setelah pasca kejadian ini,” kata dia. 

    Kuasa hukum para korban Fauzi Ridwan mengatakan bahwa pihaknya menghargai putusan hakim. Namun yang paling terpenting saat ini adalah berkaitan dengan pendampingan trauma healing terhadap korban, yang selama ini justru terlihat tidak ditanggulangi. 

    “Kejadian ini harus menjadi pelajaran untuk kita semua dan harus disikapi secara serius oleh pemerintah, lembaga pendidikan agar kejadian yang sama tidak terulang kembali ,” kata dia.

    Menurutnya, dari 11 korban yang mendapatkan pendampingan dari psikolog baru tiga korban yang difasilitasi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

    BACA JUGA: DPRKPLH Ciamis: 4 Program Hari Lingkungan Hidup Sedunia

    “Fakta persidangan 11 anak menjadi korban AR kemudian tiga anak dapat pendampingan, kemudian  yang memberikan kuasa hanya 8 orang. Kita pun belum tau sisa korban ini apakah sudah tersentuh atau tidak,” kata dia. 

    fauzi menyebut, langkah yang akan dilakukan oleh team kuasa hukum bersama para korban akan melakukan upaya Hukum untuk menuntut pertanggung jawaban pihak pondok pesantren 

    “Langkah kita selanjutnya akan melakukan upaya hukum untuk menuntut pertanggung jawaban pihak pesantren yang kita ketahui kejadian ini di salah satu pondok pesantren ternama di kabupaten Ciamis,” ujar dia.

    Berita Terbaru

    spot_img