spot_img
Minggu 20 Juni 2021
spot_img
spot_img

Hima Kosgoro Jabar: Petani Milenial Bukan Sekedar Sensasional

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Himpunan Mahasiswa Kosgoro (Himakos) Jabar menilai program Petani Milenial sudah berjalan efektif, melihat implemantasi Petani Milenial sudah berjalan di 27 Kabupaten/kota.

Ketua Himakos Jabar Wibi Bagja mengatakan, Petani Milenial sudah berjalan riil bukan hanya sekedar sensasional, pasalnya dari target 100 ribu petani saat ini sudah ada sejumlah petani di daerah yang berjalan bahkan sudah menghasilkan dari program unggulan Jabar tersebut.

“Kami disini mengajak milenial termasuk mahasiswa untuk ikut mensukseskan program milenial ini, terlebih petani milenial ini juga bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” kata Wibi dalam webinar dengan tema Progam Petani Milenial Riil atau Sensasional, di Hotel Savoy Homan Kota Bandung, Sabtu, (8/5/2021).

Namun kendati demikian menurut Wibi, masih ada beberapa catatan kekurangan dalam program Petani Milenial ini diantaranya, belum meratanya di kabupaten/kota. Kata dia, masih ada beberapa daerah yang belum bisa merasakan program ini.  

“Dengan diskusi seperti ini diantaranya bisa pemerataan petani milenial secara menyuluruh,” kata dia.

BACA JUGA: 130 Petani Milenial Ciamis Ikuti Program Agree PT Telkom

Wibi berharap, program petani milenial bisa berkelanjutan sehingga bisa dirasakan oleh semua milenial di Jabar.

“Kami juga berharap dalam waktu cepat ini target 100 ribu petani bisa terlealisasai,” kata dia.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Anggota Komisi II DPRD Ahmad  Hidayat mengatakan, program Petani Milenial dasar pemikirannya adalah untuk meregenerasi petani karena akan potensi hilangnya petani karena kurang minatnya pemuda untuk bertani.

Dengan demikian lanjut Ahmad, harus ada yang perlu diperbaiki yaitu pola rekrutmen yang memang bisa menarik dan mempertahan ideologi petani.

“Kalau dasarnya itu, orang nganggur di iming-imingi rekruitmen dengan penghasilan 4 juta pasti mau tidak ada dasar pemahamannya tidak ada dasar ideologisnya. Sektor pertanian harus ada ideologisnya itulah kami di komisi memberi masukan harus adanya pembaharuan,” kata dia.

Menurut Ahmad, lebih baik rekrutmen petani milenial ini dari anak-anak seorang petani di daerah, namun sebelum diterjunkan langsung ke lapangan calon petani milenial diberikan pendidikan soal pertanian yang tinggi, dengan memberikan beasiswa pendidikan.  

“Karena mereka dasarnya sudah ada, lahannya ada, cara kerjanya ada, dan jangan lupa ditingkatkan melalui regulasi. Karena dengan ilmu yang cukup tinggi dengan didukung budaya bertani maka akan berjalan akan lebih baik,” kata dia.

(Anthika Asmara)

Artikel Lainnya

spot_img