Jumat 15 Januari 2021

Kisah Pilu Penjual Masker di Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Penjual Masker di Tasikmalaya umumnya pedagang musiman yang memanfaatkan momentum kebutuhan masyarakat terhadap alat perlindungan diri di tengah pandemi Corona.

Semenjak virus asal Wuhan Cina tersebut mulai merambah Indonesia, pemerintah membatasi aktivitas warga dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal itu berdampak pada melemahnya beberapa aktivitas ekonomi masyarakat.

BACA JUGA: Duh, Kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya Memprihatinkan

Salah satunya dialami oleh Fadil (46) warga Cilembang Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, yang kini menjadi Penjual Masker di Tasikmalaya.

Sebelumnya dia adalah penjual tas. Fadil bisa menjual 5-10 tas perhari, sebelum wabah Corona melanda. Namun setelah Corona mewabah di Indonesia, omzetnya turun drastis sampai tidak ada yang laku satupun.

Fadil pun akhirnya mengalihkan usahanya dengan menjual masker mulai dari harga Rp10 ribu – Rp15 ribu. Awalnya jualan masker sangat laku. Diapun bersyukur menjual menjadi komoditi bisnis yang membuatnya bisa bertahan hidup setelah tas tidak laku.

Omzet Masker Menurun

Namun kemudian trend penjualan masker pun merangkak turun. Jualan masker pun kini sudah mulai berkuran omsetnya.

“Sekarang, yang beli rata-rata yang lupa ga bawa masker, gak ada lagi pembelian partai besar, tapi ya lumayan untuk bertahan hidup,” kata Fadil di Cilembang Tasikmalaya, Minggu (29/11/2020).

Sudah beralih menjadi penjual makser pun ekonomi Fadil masih keteter. Permintaan pasar mulai menurun seiring dengan menjamurnya para penjual masker. Omzetnya turun 80 persen.

“Kalau yang beli masih ada cuma omsetnya turun drastis, mungkin masyarakat sudah pada punya, kemudian penjual seperti saya semakin banyak,” kata dia.

Penjual masker ini berharap wabah covid-19 ini segera berlalu. Bagaimanapun wabah tidak hanya berdampak pada yang terkena virus saja. Tetapi pada sendi-sensi ekonomi.

“Pemerintah memang sudah ada program bantuan tpi itu tidak menyentuh seluruhnya, masih banyak yang ga terbagi. Kelamaan pemerintah juga gak bakal kuat, ” kata Fadil.

Menurut Fadil pemulihan ekonomi menjadi yang prioritas. Dia bahkan tidak menyalahkan orang – orang yang memaksakan diri beraktivitas di luar, karena kebutuhan ekonomi.

“Banyak keluarga yang harus ditanggung di rumah. Bukan cuma saya yang Limpung, yang lain pun Limpung,” kata Fadil.

(Deni Hamdani)

Artikel Lainnya

Kisah Pilu Penjual Masker di Tasikmalaya 1
Kisah Pilu Penjual Masker di Tasikmalaya 2