spot_img
Selasa 13 April 2021
spot_img
spot_img

Kentongan Sinyal Komunikasi Jarak Jauh

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kentungan (kentongan) yang dalam bahasa lainnya disebut Jidor adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bamboo atau kayu yang dipahat.

Zaman dulu, kegunaannya didefinisikan sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, morse, penanda azan maupun tanda bahaya yang digunakan masyarakat yang tinggal di pedesaan dan pegunungan.

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Sesalkan Sanksi Duduk dengan Keranda Mayat

Konon, sejarah budaya benda ini berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentungan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Cheng Ho membawanya ke Cina, Korea dan Jepang. Setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarahnya yang tinggi.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), konon kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Kabar lainnya, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin.

Kentongan dibunyikan dengan irama yang berbeda-beda dan keras untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda. Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan.

Pada zaman dulu, biasanya benda tersebut disimpan di tempat-tempat penting. Misalnya di rumah kepala lurah atau RT dan tempat lainnya.

Awalnya, kentongan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam.

Di masyarakat pedalaman, benda ini sering kali digunakan sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid apabila jam salat telah tiba.

Namun, kentongan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi. Para petani menggunakannya sebagai alat untuk mengusir gewan perusak tanaman.

Tak hanya itu, pada masanya kentongan tidak hanya dipasang di pos keamanan lingkungan, namun juga dipasang di setiap rumah warga sebagai alat komunikasi untuk memberikan tanda yang berkaitan dengan kondisi keamanan lingkungan.

Seperti penanda adanya pencuri, penanda  bencana alam berupa banjir maupun  kebakaran.

Seiring perkembangan Teknologi informasi pada awal tahun 2000, kentongan pun semakin tergeser dengan alat komunikasi lain yang lebih modern dan canggih.

Banyak yang mengenalnya sebagai alat musik tradisional Jawa. Bunyinya yang “tok tok” sangat identik. Kentongan itu bukan hanya alat musik. Jika dipukul, bunyi-bunyinya juga menyuratkan tanda tertentu.

Ada kode pada setiap banyaknya bunyi pukulan. Apabila saat siang atau malam terdengar bunyi kentongan, maka orang pasti akan menghitung berapa banyak jumlah pukulannya.

Leluhur kita memang sangat cerdas dalam mewariskan sebuah benda. Bagaimana tidak, mereka sudah menentukan maksud dari setiap banyaknya pukulan serta panjangnya pukulan.

Dari bunyi frekuensi, orang bisa mengetahui peristiwa apa yang sedang terjadi. Lengkap dengan strategi apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi peristiwa tersebut.

Untuk mengetahui peristiwa yang sedang terjadi, tidak perlu menunggu pengumuman dari mulut ke mulut. Kentongan sudah mewakili itu semua.

Hanya dengan alat sederhana ini, semua orang bisa mendapatkan berita dengan valid dan pada waktu yang sama juga masyarakat langsung berkumpul ke tempat terjadinya peristiwa tersebut.

Kontras sekali dengan keadaan saat ini. Teknologi semakin canggih, namun ternyata masih belum bisa mengabarkan sesuatu dengan aktual seperti kentongan. Malah, teknologi sekarang lebih banyak menghasilkan informasi palsu (hoax).

Masyarakat saat ini lebih mengandalkan grup yang ada di sosial media. Mereka berharap bisa mendapatkan informasi mengenai kejadian yang sedang terjadi.

Mantan Ketua DPRD Garut periode 2009-2014 sekaligus Ketua Paguyuban Ki Garut, Ahmad Bajuri mengatakan, Kita tidak bisa merubah tempat dan waktu, tetapi tempat dan waktu memberi peluang untuk merubah kita.

Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi) mengutip sebuah pesan leluhur “ Hana Nguni Hana Mangke tan Hana Nguni tan Hana Mangke “ yang artinya, adanya saat ini melainkan adanya kemarin juga tidak ada saat ini jika tidak ada kemarin.

Terkadang masyarakat banyak salah menfsirkan tentang “ Budaya.” Mereka berasumsi seni dan menganggap hal yang berbau mistik. Padahal sebenarnya, kebiasaan atau adat suatu daerah, agar menjadi kebudayaan. Selain itu, evaluasi/introspeksi agar potensi diri sendiri bisa tergali

“Manajemen budaya pengelolaan waktunya-pun, kerap terlupakan. Artinya, kebanyakan masyarakat hanya memikirkan keberhasilan serta potensi orang lain saja.  Dari 24 jam, berapa jam kita memikirkan potensi diri sendiri?,” kata Bajuri.

Melalui hal tersebut, kita dapat mengukur kemampuan/potensi diri agar bisa maju. Lingkungan merupakan salah satu faktor penunjangnya dengan bersilaturahmi untuk bertukar pendapat

Saat menjabat Ketua DPRD Garut, Jawa Barat, dirinya blusukan ke pelosok daerah menggaungkan pentingnya kentongan di era modern. Sayangnya, hanya diikuti beberapa daerah saja.

(Bambang Fouristian/berbagai sumber)

Artikel Lainnya

spot_img