Kendati begitu, ada sejumlah masalah yang harus menjadi perhatian pemerintah di bawah kepemimpinan Emil.
Hasil survei Indonesia Strategic Institute (Instrat), sejumlah perhatian adalah urusan kesejahteraan.
Hal itu menyusul hasil survei bulan Agustus menunjukkan bahwa ada urusan paling tidak puas dari persepsi masyarakat, yakni 19 persen.
Kemudian lapangan pekerjaan 16 persen dan harga bahan pokok 9 persen.
“Ketiga masalah itu belum terasa oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak puas atas pemerintah terkait penanganan, kesejahteraan, lapangan pekerjaan dan harga kebutuhan pokok,” kata Direktur Eksekutif Instrat Jalu Priambodo saay diskusi di salah satu kafe di Jalan Cigadung, Kota Bandung, Selasa (17/9/2019).
Saat ini masyarakat merasa puas atas pelayanan pemerintah pada urusan kerukunan, bahkan mencapai 66 persen, disusul bencana alam 61 persen dan kebebasan sebanyak 61 persen.
Dari sisi kebahagiaan masyarakat Jawa Barat tahun 2019 dinilai meningkat meskipun tidak signifikan.
Tingkat kebahagiaan masyarakat pada 2019 mencapai 90 persen, tahun 2017 hanya 89 persen.
Di sisi lain, kata Jalu, tingkat kebanggaan masyarakat menjadi warga Jabar cenderung menurun. Pada 2017 mencapai 93 persen, sedangkanbtahun 2019 hanya 91 persen.
Untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, Jalu menyebut ada tiga program yang paling dirasakan masyakat, yakni Desa Digital, Jabar Quick Response (JQR) dan Kredit Mesra.
Ketiga program itu bisa mengcover tiga permasalahan yang paling dikeluhkan oleh masyarakat, yaitu kesejahteraan, lapangan kerja dan harga sembako.
“Kan mayoritas di Jabar adalah desa, dan yang dirasakan manfaatnya, karena fokus membenahi desa. Kedua adalah JQR yang terkait dengan kebencaan dan aspirasi publik,” kata dia.
Akan tetapi, JQR ini perlu dibuat lebih membumi dari sisi bahasa agar mudah dimengerti. Ketiga adalah Kredit Mesra di Kota Bandung yang bisa ditarik ke Jabar. Karena banyak orang membutuhkan modal usaha dengan problem lapangan pekerjaan.
Ketiga program inilah yang harus difokuskan oleh Gubernur Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum. Kalaupun banyak program yang sudah diluncurkan itu akan menjadi bias jika tidak difokuskan.
“Kan program yang sudah dilaunching itu terlalu banyak. Maka lebih baik difokuskan pada tiga program tadi, karena itu bisa mengcover permasalahan masyarakat Jabar,” kata dia.
Kemudian kaitannya dengan kesejahteraan, menurut dia tidak ada program yang dianggap unggulan tidak ada turun ke bawah yang memang harus menunjukkan bahwa ada program yang langsung yang berkaitan dengan masalah kesejahteraan.
“Bukan hanya urusan kesejahteraan, tapi tidak ada turunan yang menjawab apakah program ini bisa mengcover masalah lapangan kerja ataupun harga sembako,” kata Jalu.
Selain itu, terkait kondisi ekonomi yang saat 41 persen, Jalu mengakui bahwa saat ini menurun dan sebanyak 72 persen mengatakan bahwa kondisi sedang membaik.
Untuk diketahui, survei ini dilakukan terhadap 405 responde di 27 kabupaten/kota di Jabar terpilih secara acak menggunakan multi stage random.
(AS/LIN)


