GARUT, FOKUSJabar.id: Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) periode 2019-2024, seluruh Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) dari masing-masing Partai Politik (Parpol) peserta Pemilu sudah di daftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Namun sangat di sayangkan, sistem rekruitmennya minim idiologi. Para pengurus Parpol lebih mengutamakan popularitas. Padahal, mereka sama sekali tidak memiliki dasar pendidikan politik.
BACA JUGA:
Soal Isu Pemda Pecat PPPK, Ini Kata MenPAN-RB
Pola rekruitmen asal-asalan terjadi juga di Kabupaten Garut. Dampak negatifnya dapat di lihat dari rendahnya kepekaan para anggota DPRD periode 2009-2014 dan 2014-2019 terhadap masalah yang terjadi di masyarakat.
Momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 kemarin, di pakai ajang penciteraan dan tebar pesona para Bacaleg dari seluruh Parpol pengusung maupun pendukung Pasangan Calon (Paslon).
Tak hanya incumbent, wajah-wajah baru pun dengan gencar terjun ke masyarakat agar bisa meraih simpatik dari calon pemilih.
Posisi incumbent bukan jaminan untuk dapat terpilih kembali, meski statusnya di untungkan dalam hal membangun simpul-simpul jaringan maupun pembangunan infrastruktur melalui pokok-pokok pikiran DPRD.
Masyarakat tentunya akan melihat kiprah mereka selama memangku jabatan wakil rakyat. Jika banyak janji yang tidak terealisasi, mungkin di situlah letak kelemahan sang incumbent.
Pileg 2019-2024, para incumbent selain di sibukkan dengan persaingan para pendatang baru, juga akan meladeni persaingan internal. Yakni, berburu nomor urut.
Berkaca pada Pileg dua periode sebelumnya, 60-65 persen di Gedung Patriot (DPRD Garut) di huni para pendatang baru. Kondisi tersebut di prediksi tidak akan jauh berbeda pada Pileg 2019-2024.
Sekarang tinggal bagaimana caranya para incumbent bisa kembali meraih simpatik dari masyarakat yang notabene sudah kurang percaya karena janji-janji mereka saat kampanye banyak yang tidak terpenuhi.
Kondisi tersebut, tentu saja di manfaatkan para pendatang baru. Mereka melakukan blusukan hingga ke akar rumput dan menggelar berbagai pertemuan dengan para tokoh masyarakat.
Di sini, masyarakat di tuntut cerdas dalam menentukan pilihannya. Artinya, harus benar-benar memilih wakilnya yang prorakyat. Jangan tergiur politik transaksional yang hanya untuk kepentingan sesaat.
Kompetisi antarparpol dan Calon Legislatif (Caleg) akan semakin panas dan ketat untuk kembali merebut suara rakyat di-tengah kecenderungan apatisme politik dan golput.
Terlebih, ketika muncul berbagai produk kompetitif berupa konsep, program solutif serta gagasan unik yang di tawarkan oleh rival-rival Parpol atau caleg lainnya.
Karenanya, di butuhkan sebuah strategi jitu dalam kampanye. Yakni, salah satunya komunikasi dua arah. Di mana masyarakat di beri ruang untuk memberikan komentar atau tanggapan.
Parpol dan para Caleg jangan selalu berfikir bisa meraih perolehan suara dalam skala besar. Tapi, berusaha menggarap kantong-kantong suara yang selama ini belum tersentuh. Selamat berjuang agar bisa meraih simpatik masyarakat.
(Bambang Fouristian)



