spot_imgspot_img
Rabu 1 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 7609

Puisinya Dituding Lecehkan Islam, Sukmawati Angkat Bicara

0
ilustrasi (Web)

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar dipersoalkan. Untuk menjawab itu Sukmawati pun angkat bicara tentang ini.

Video bersisi  puisi yang dibacakan Sukmawati dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018 tersebut menjadi viral dan ramai dibahas warganet.

Salah satu yang mengkritik puisi tersebut adalah pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera. Menurut Kapitra, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan azan dengan kidung Pancasila.

“Jangan banding-bandingkan azan. Azan itu panggilan ibadah,” tutur Kapitra kepada wartawan, Senin (2/4/2018).

Sukmawati mengatakan apa yang disampaikannya adalah pendapat pribadi sebagai budayawan. Menurut Sukmawati, tidak ada isu SARA sama sekali dalam puisi yang dibawakannya.

“Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati, khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain,” kata Sukmawati, seperti dilansir Detik, Selasa (3/4/2018).

Sukmawati mengatakan apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” ujar Sukmawati.

“Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar. Sebagai panggilan waktu untuk salat. Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” sambungnya.

Berikut puisi karya Sukmawati tersebut:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

(Agung/DAR)

Dari Bandung, Athalia Ridwan Kamil Belanja Sayur di Pasar Ciamis

0

CIAMIS, FOKUSJabar.id : Istri Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Athalia Kamil menyempatkan diri blusukan ke Pasar Manis Ciamis. Bu Cinta panggilan akrabnya menyempatkan diri  berbelanja baju, sayuran serta menyapa masyarakat Ciamis Selasa pagi, (3/4/2018).

Kedatangan istri mantan Walikota Bandung ini disambut antusias warga Pasar Manis, beberapa orang minta selfi bareng termasuk Tieta Keyskenzkean. Tanpa merasa canggung Athalia wara – wiri berbelanja serta berbincang-bincang bersama masyarakat layaknya ibu rumah tangga.

Tieta sebagai kader Nasdem Ciamis, mengaku merasa bangga dengan sosok Athalia yang tidak mengindahkan statusnya sebagai istri salah satu orang berpengaruh di Jawa Barat, juga selaku Calon Gubernur Jawa Barat.

” Beliau selayaknya ibu dan seorang istri yang berbelanja untuk keperluan rumah tangga, menyapa masyarakat tanpa ada sekat, berbaur dan memang ibu Cinta Athalia sangat merakyat,” Jelasnya.

Setelah berkunjung ke Pasar Manis Ciamis Athalia bersama rombongan melanjutkan kunjunalgan ke Kampung Angklung di Dusun Nempel Desa Panyingkiran Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis.

(Riza M Irfansyah/DAR)

Biografi KH Abdul Halim yang Namanya Akan Dijadikan Nama Bandara

0
google.com

BANDUNG, FOKUSjabar.co.id : Pahlawan nasional KH Abdul Halim menjadi salah satu nama yang diusulkan untuk penamaan Bandara Internasional Jawa Barat ( BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang bakal diresmikan Juni 2018. Siapakah sosok KH Abdul Halim itu?

Abdul Halim dilahirkan tanggal 4 Syawal 1304 H (26 Juni 1887) di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dia adalah keturunan ulama besar pada zamannya Ayahnya bernama KH. Muhammad Iskandar berasal dari Banten dan jadi Penghulu di Jatiwangi. KH Muhammad Iskandar kemudian mempersunting gadis setempat bernama Siti Mutmainah dan dikarunia tujuh anak dan salah satunya adalah Abdul Halim sebagai anak bungsu.

Masa kecil Abdul Halim dihabiskan dengan memperdalam ilmu agama. Keluarganyalah yang mendidiknya, namun kebersamaan dengan ayahnya hanya sebenatar karena ayahnya meninggal dunia saat Abdul Halim baru berusia 7 tahun. Selanjutrnya Abdul Halim diasuh oleh Ibu dan keenam kakaknya. Kecintaannya kepada ilmu agama sudahh ditunjukkan Abdul Halim sejak kecil. Saat berusia 10 tahun, Abdul Halim belajar Alquran dan Alhadits kepada KH Anwar seorang ulama terkemuka dari Ranji Wetan Majalengka.

KH Anwar adalah guru pertamanya diluar keluarga. Belajar kepada orang lain Abdu Halim sangat disiplin, tiada hari tanpa belajar. Bukan hanya ilmu agama saja yang dipelajarinya disiplin ilmu lainnya juga didalaminya. Abdul Halim juga tak pilih-pilih mazhab atau aliran dalam mempelajari ilmu. Yang penting bermanfaat bagi dirinya. Bahkan Abdul Halim pernah belajar bahasa Belanda dan huruf latin Van Hoeven kepada seorang pendeta dan missionaris Kristen di Cideres, Majalengka.

Menginjak usia remaja Abdul Halim mulai belajar lebih luas lagi Belajar di berbagai Pondok Pesantren. Diantaranya: Pesantren Lontangjaya Penjalin Leuwimunding Majalengka asuhan KH. Abdullah, Pesantren Bobos Sumber Cirebon asuhan KH. Sujak, Pesantren Ciwedus Timbang Cilimus Kuningan asuhan KH. Ahmad Shobari, Pesantren Kedungwangi Kenayangan Pekalongan asuhan KH. Agus.

Setelah menginjak usia 21 tahun, Abdul Halim menikah dengan Siti Murbiyah putri KH. Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka) yang kemudian hari dikaruniai 7 orang anak. Walaupun sudah berkeluarga, Abdul Halim tidak lantas berhenti belajar. Sebagai pecinta ilmu, ia meneruskan dan memperdalam ilmu-ilmu keislaman di tanah kelahiran Islam, yaitu Mekah. Di Tanah Suci, ia berguru kepada ulama-ulama besar, satu diantaranya ialah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Sejarah mencatat bahwa Syeikh Ahhmad Khatib al-Minangkabawi adalah salah seorang ulama al-Jawi (Nusantara) yang menetap di Mekah, bahkan menjadi ulama besar dan Imam Masjid al-Haram pada masa hidupnya. Syeikh dari Minangkabau inilah guru dari ulama-ulama besar Indonesia abad ke-20 yang banyak berkecimpung dalam perjuangan bangsa Indonesia dan pergerakan nasional, seperti Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH, Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansyur, KH. Bisri Syansuri, Syeikh sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Mustafa Husein Nasution, KH. Sirajuddin Abbas, Syeikh Khatib Ali, KH. Agus salim, dan banyak lagi lainnya. Bisa dikatakan bahwa Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah guru para nasionalis Islam Indonesia.

Di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim terkenal sangat toleran kepada teman-temannya, baik dari kalangan pembaharu maupun kalangan tradisionalis. Hal itu di buktikan bahwa KH. Abdul Halim banyak bergaul dengan KH. Mas Mansyur (tokoh Muhammadiyah) dan KH. Wahab Hasbullah (tokoh Nahdlatul Ulama) hingga hubungan mereka bertiga menjadi sangat dekat dan akrab –walaupun kedua sahabat karib beliau berbeda tempat pengabdian. Selain itu juga ditunjang dengan pembacaan beliau yang beraneka ragam terhadap ilmu-ilmu keislaman dan sosial-kemasyarakatan.

Setelah tiga tahun belajar di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim kembali ke Tanah Air. Beliau mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka (1911), untuk mendidik putra-putra daerah. Setahun kemudian, setelah Majlis Ilmi berkembang, beliau mendirikan sebuah oerganisasi bernama Hayatul Qulub, dimana Majlis Ilmi merupakan bagian di dalamnya.

Hayatul Qulub yang didirikan tahun 1912 itu bergerak dalam lapangan ppendidikan dan perekonomian. KH Abdul Halim berusaha memajukan tingkat pendidikan dan perekonomian –terutama sektor perdagangan– masyarakat. Sesuai dengan bidang usahanya maka anggota organisasi ini bukan saja dari kalangan guru, kiyai dan santri, tetapi para petani dan pedagang.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang perdagangan tentu saja tidak akan lepas dari persaingan dagang, khususnya dengan para saudagar pendatang. Keadaan lebih sulit lagi ketika pemerintah Hindia-Belanda melalui penguasa setempat banyak membela kepentingan-kepentingan para pedagang dari Cina yang diberi status hukum lebih kuat dibanding pedagang pribumi. Persaingan ini memuncak ketika terjadi kerusuhan di Majalengka, dimana toko-toko milik para pedagang Cina diserang oleh sebagian oknum asal pribumi (1915). Pemerintah Hindia-Belanda menuding Hayatul Qulub pimpinan KH. Abdul Halim sebagai biang keladi kerusuhan. Akibatnya, organisasi Hayatul Qulub dibubarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan dilarang meneruskan kegiatannya. Untuk menyelamatkan kepentingan perjuangan Islam, KH. Abdul Halim mengambil langkah kembali ke Majlis Ilmi dalam membina kader-kadernya, sambil menunggu perkembangan keadaan.

Ketika keadaan mulai membaik, KH. Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan yang lebih baik, diatur dengan sistem klasikal dan koedukasi, sebagai metamorfosa dari Majlis Ilmi. Lembaga yang diberi nama Jamiyyah al-I’anah al-Muta’allimin ini secara resmi berdiri pada 16 Mei 1916 M. Setahun kemudian, dengan dukungan HOS Cokroaminoto, lembaga tersebut dikembangkan dan berganti nama menjadi Persyarikatan Ulama, yang kemudian dikenal dengan PUI (Persyarikatan Ulama Indonesia).

Persyarikatan Ulama Indonesia mempunyai tujuan pokok, antara lain: A) Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran agama Islam. B) Memajukan perihal penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam. C) Memelihara tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati supaya suka tolong-menolong antara satu dengan lainnya.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu PUI berusaha mendirikan dan memelihara sekolah, menerbitkan, menyiarkan dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, surat kabar dan majalah yang berisi bernafaskan keislaman, meningkatkan pertanian dan perdagangan serta perekonomian lainnya, mendidik pemuda yang sebagai kader muslim masa mendatang, serta bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Islam.

Persyarikatan Ulama Islam yang berdiri 1917 itu, sejak 1924 mengalami perkembangan yang ditandai dengan berdirinya cabang-cabang PUI di berbagai daerah di Jawa dan Madura, dan kemudian semenjak 1937 meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia. Walau organisasi ini tidak sebesar NU dan Muhammadiyah, tetapi peran yang diambilnya tidak bisa dikatakan kecil bahkan bisa dikatakan bahwa PUI seakan-akan merupakan perpaduan antara kedua organisasi tersebut. KH. Abdul Halim dengan PUI-nya menganut madzhab Syafi’i (sebagaimana NU yang mengikuti salah satu dari Madzhab Empat) tetapi juga menerima dan membuka luas akan adanya pembaharuan (sebagaimana lazim dikalangan Muhammadiyah).

Dalam dunia politik KH. Abdul Halim menjadi anggota Sarekat Islam yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ulama ini banyak berhubungan dengan HOS Cokroaminoto dan juga tokoh-tokoh Sarekat Islam lainnya. Sikapnya sangat moderat dan penuh toleransi, terbukti ketika DR. Sukiman dipecat dari PSII karena kemelut yang terjadi di internal partai, KH. Abdul Halim tidak menyetujui pemecatan tersebut dan tetap menghendaki adanya penyelesaian masalah secara musyawarah.

KH. Abdul Halim dalam mengelola pendidikannya banyak mengambil rujukan dari tokoh-tokoh lain, banyak mengambil nasehat dan contoh yang baik, tidak pandang dari siapa asalnya. Misalnya, dia mencontoh Jam’iyah al-Khairat dan al-Irsyad di Jakarta, bahkan dari Perguruan Tinggi Santiniketan di India, beliau juga banyak mengambil contoh dari Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Syafe’i yang keduanya merupakan tokoh pendidikan nasional. KH. Abdul Halim menempatkan murid-muridnya dalam asrama pesantren yang diberi nama Santi Asromo (Asrama Damai) yang didirikan bulan April 1932 di kaki Gunung Ciremai, Pasir Ayu Sukahaji Majalengka.

Disamping mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, Persyarikatan Ulama Indonesia, KH. Abdu Halim Majalengka juga menerbitkan beberapa majalah, antara lain: Suara Persyarikatan Oelama, Suara Islam, asy-Syura, Miftah as-Sa’adah, Pengetahuan Islam, Berita PO (Persyarikatan Oelama), al-Mu’allimin, Pemimpin Pemuda dan Petunjuk Jalan Kebenaran. Banyaknya judul majalah ini menunjukkan jalannya pengelolaan yang kurang mulus, apalagi kesuluruhan majalah tersebut umurnya hanya 11 tahun, yang terbit 1930-1941 secara bergantian judul ataupun secara bersamaan. Hal ini dapat dimaklumi karena keadaan saat itu belum semaju sekarang. Walau demikian, upaya ini merupakan langkah progresif yang diambil oleh KH. Abdul Halim beserta kader-kadernya.

Sebagai salah seorang tokoh pergerakan nasional dan pemimpin organisasi Persyarikatan Ulama Indonesia, wajar apabila tokoh ini memiliki pengaruh cukup besar. Beliau termasuk salah seorang dari sekian banyak tokoh Indonesia yang ikut membahas rencana pembentukkan negara Indonesia pada masa akhir penjajahan Jepang. KH. Abdul Halim termasuk anggota dari Dokuritsu Tyunbi Tyoo Sakai alias Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diresmikan 29 Mei 1945 bersama KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur, KH. Mas Mansyur, KH. Abdul Kahar Muzakir, KH Agus salim dan beberapa tokoh lainnya.

Abdul Halim terkenal sebagai seorang ulama yang berpendirian tegas, tetapi sikapnya begitu toleran dengan masyarakat terlebih di kalangan Ulama. Beliau adalah pengikut madzhab Syafi’i, tetapi menghormati rekan-rekannya yang tidak bersedia ikut madzhab atau dikenal dengan kelompok reformis (pembaharu). Ia tidak segan-segan menerima ilmu yang datang dari orang lain, walau tidak sealiran dengannya, begitu pula dalam pembaharuan pendidikan dan pesantren yang di pimpinnya.

Ulama besar asal Majalengka Jawa Barat ini mengabdikan dirinya kepada Allah, mendarmabaktikan dirinya kepada umat, bangsa dan negara, dan khususnya dalam pengembangan pendidikan Islam tiada henti-hentinya sampai akhir hayat. KH. Abdul Halim wafat di Majalengka pada 7 Mei 1962 dalam usia 75 tahun namun perjuangannya masih dilanjutkan oleh putra-putra dan murid-muridnya hingga kini.

(DAR)

Tahun Ini, Ujian Nasional di Jabar 100 Persen Berbasis Komputer

0
(HUMAS JABAR)

BANDUNG, FOKUSJabar.id : Tahun ini penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) SMA/SMK di Jawa Barat 100 persen sudah Berbasis Komputer (UNBK). Metode ujian ini istimewa, karena menjamin tidak ada kebocoran soal dan mencegah para peserta didik untuk melakukan kecurangan.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) mengungkapkan hal tersebut usai melakukan peninjauan UNBK di SMKN 2 Jl. Ciliwung No 4 Cihapit, Kota Bandung, Senin (2/4/2018) kemarin.

“ Di Jawa Barat sudah 100 persen, Insya Allah. Kalaupun ada yang tidak (berbasis komputer) di pelosok-pelosok, mungkin ada gangguan teknis. Tapi ini sudah dirancang 100 persen UNBK,” kata Aher.

Aher mengatakan, UNBK memiliki jaminan untuk tidak ada kebocoran soal, karena sudah menggunakan sistem komputerisasi. Selain itu, soal yang diberikan pada siswa berbeda-beda, sehingga siswa tidak bisa saling diskusi dan mencontek.

“Alhamdulillah sekarang tidak saja secara moral kita menginginkan tidak adanya kecurangan pada pelaksanaan UNBK, tapi secara sistem pun kita buat untuk tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa curang, tidak bisa nyontek. Itu keuntungannya,” papar Aher.

Angka Partisipasi Pendidikan SMA Meningkat Signfikan

Tahun ini peserta didik yang mengikuti UNBK tingkat SMA di Jawa Barat berjumlah 638.045 siswa dari 6.457 institusi pendidikan setingkat SMA, SMK, MA dan Paket C. Jumlah ini dinilai meningkat dari tahun sebelumnya yang berkisar 550.000 siswa. Bagi Aher, peningkatan ini menjadi salah satu indikator perkembangan pendidikan tingkat SLTA yang lebih baik lagi setelah alih kelola ke pihak provinsi.

“ Jumlah peserta UNBK) Naik dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya di angka 550.000-an. Kalau sekarang 638.000 berarti angka partisipasi SMA ketika masuk ke provinsi (alih kelola) langsung naik tinggi,” ujar Aher.

Aher juga mengungkapkan, berdasarkan perhitungan yang baru, peningkatan angka partisipasi pendidikan SLTA di Jawa Barat naik secara signifikan. Mulai dari kisaran 45 persen di tahun 2008, angka partisipasi pendidikan SLTA tahun 2018 ini sudah mencapai 81 persen.

Aher berharap pada tahun ajaran baru menjelang 2019 mendatang, angka partisipasi pendidikan SLTA di Jawa Barat dapat menembus angka 90 persen.

Mendukung pernyataan Aher, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Ahmad Hadadi menuturkan, pihaknya menjamin UNBK bisa diterapkan 100 persen. Dia menyebut, ada 260.956 unit komputer yang dapat digunakan secara bergantian oleh SMA, SMK, MA serta Paket C.

Sementara pelaksanaan UNBK tingkat SMA dibagi menjadi tiga sesi, yakni SMK pada 2-5 April 2018, SMA/MS/SMLB pada 9-12 April 2018, dan Paket C pada 27-30 April 2018. Sedangkan UNBK tingkat SMP/MTS digelar pada 23-26 April 2018.

Dari hasil pendataan, dengan jumlah komputer sebanyak 260.956 unit dan server 8.816, ini bisa untuk menyelenggarakan UNBK 100 persen, karena SMA dan SMK tidak bersamaan, demikian juga halnya Paket C, jadi bisa bergantian,” kata Ahmad Hadadi ditemui usai mendampingi Aher meninjau UNBK.

“Kalau toh sekarang yang ikut ada 600.000-an (siswa), sementara komputer ada 200.000, jadi untuk tiga sesi tidak ada masalah,” lanjutnya.

Disinggung terkait resiko kesalahan teknis, Ahmad Hadadi menyebutkan pihaknya telah berkoordinasi dengan stake holder terkait guna kelancaran penyelenggaraan UNBK serentak ini. Yang penting, katanya, penyelenggaraan UNBK bisa tepat waktu dan soal yang diujikan masih asli, tidak ada penambahan maupun pengurangan.

“Kami sudah antisipasi, termasuk PLN. Sehingga diharapkan selama UNBK pasokan listrik bisa maksimal, tidak ada kendala. Kalau ada persoalan, bisa aja diundur berapa jam. Misalnya suplai listrik terhenti satu jam, bisa kita undur satu jam berikutnya. Sudah koordinasi, kita tidak ada masalah,” jelas Ahmad.

(Bam’s)

Panwaslu Kuningan: Penggunaan Fasilitas Negara Hanya Berlaku untuk Calon Bupati-Wakil Bupati

0
ilustrasi (Web)

KUNINGAN, FOKUSJabar.id : Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Kuningan, Jubaedi menjelaskan hasil pleno dengan penyidik kepolisian dan kejaksaan terhadap Calon Gubernur (Cagub) Ridwan Kamil dan pihak yang meminjamkan motor berplat merah saat kampanye terkendala UU.

Menurutnya, penggunaan fasilitas Negara dengan sangkaan pasal 69 UU RI nomor 10/2016 tentang Pilkada, hanya berlaku bagi calon Bupati dan Wakil Bupati.

” Gakkumdu Kuningan memutuskan dalam pleno itu tidak diteruskan. Karena Pasal yang mengatur itu bukan untuk calon gubernur dan wakil gubernur,” kata Jubaedi.

Jubaedi juga mengatakan, dari hasil pemeriksaan yang meminjamkan motor yaitu Kepala Desa Cijemit, Iman Nugraha mengakui perbuatannya salah.

” Sudah kita klarifikasi, dia akui kesalahannya. Kalaupun kita jeratkan otomatis harus sepaket dengan Ridwan Kamilnya. Jum’at kemarin udah kita putuskan itu. Setelah Konsultasi dengan Gakkumdu Jabar, akhirnya kita tidak ada kesepakatan untuk mengenakan pasal 69,” jelasnya.

seperti diketahui, Ridwan Kamil menggunakan motor plat merah dengan Nopol E 2254 Y di Desa Pinara Kecamatan Ciniru Kabupaten Kuningan pada Senin 26 Maret 2018 lalu.

(Budi/Bam’s)

Bauman Butuh Adaptasi

0
ilustrasi (Web)

BANDUNG, FOKUSJabar.id : Jonathan Bauman tampil sebagai starter pada pertandingan tandang kompetisi Liga 1 2018 menghadapi Sriwijaya FC di Stadion Jakabaring, Palembang, Minggu (1/4/2018).

Pertandingan menghadapi tim berjuluk Laskar Wong Kito ini merupakan pertandingan perdana bagi Bauman di tim Maung Bandung. Dia dipasang di lini depan bersama striker asing asal Chad, Ezechiel N’douassel.

Menurut asisten pelatih Persib, Fernando Soler, meski Buman mampu memberikan satu asis yang berbuah gol, namun penampilannya masih belum maksimal. Karena, pemain yang menggunakan nomor punggung 99 ini masih butuh aaptasi.

Soler berharap, pada pertandingan selanjutnya menghadapi Mitra Kukar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Minggu (8/4/2018), Bauman bisa tampil lebih baik dan Maung Bandung meraih poin penuh.

“Masih belum siap, masih adaptasi. Saya pikir satu pertandingan lagi sudah siap dia. Saya harus bicara saya harus bantu pemain juga,” kata Soler di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

(Arif/Bam’s)

Sekda Jabar Sesalkan ASN Ciamis Berkaraoke di Jam Kerja

0

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa menyesalkan viralnya video PNS di Pemkab Ciamis yang tengah karaoke saat jam kerja.

Terlebih, kata Iwa, saat jam kerja, PNS terikat aturan untuk tetap melakukan tugas dan layanan publik sebaik-baiknya.

“Kalau bermain-main dan tidak bertugas saat kam kerja, itu pelanggaran disiplin bagi PNS,” tegas Iwa di Bandung, Senin (2/4/2018).

Menurut dia, tindakan oknum PNS di Ciamis yang berkaraoke tersebut, sudah pasti akan dilakukan pembinaan oleh Badan Kepegawaian Daerah setempat karena kurang patut.

“Ini harus dibina, saya menyesalkan hal ini terjadi di Ciamis. Saya imbau agar PNS atau ASN provinsi maupun kabupaten/kota bekerja sesuai jam kerja,” kata Iwa.

Menurutnya fasilitas karaoke di ruang kerja sebetulnya tidak masalah asal dipakai di luar jam kerja. Gunanya untuk menghilangkan stress pegawai, keberadaanya bisa merugikan publik jika dipakai saat jam kerja.

“Organ tunggal juga tidak masalah asal dipakai saat di luar pelayanan publik, kalau saat jam kerja, pelayanan publik pasti terganggu. Bahkan ketika jam kerja habis namun masih ada publik meminta layanan ya harus diutamakan, karena ini fungsi kita sebagai abdi negara,” paparnya.

Iwa pun menekankan agar kasus serupa tidak terulang, seluruh PNS patuh saat jam kerja dan harus mengutamakan layanan publik.

” Tinggalkan main-main saat jam kerja. Jangan mengganggu pelayanan, ” tegas dia.

(LIN)