BANDUNG.FOKUSJabar.id: Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi menyebut, keterbukaan terhadap kritik dan kesediaan menindaklanjuti masukan menjadi salah satu karakter kepemimpinan yang melekat pada sosok Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dede Yusuf menilai, seorang pemimpin tidak cukup hanya bersedia mendengarkan masukan. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu mencatat dan memastikan setiap masukan di tindaklanjuti menjadi langkah konkret.
BACA JUGA:
Bidik 60–70 Kursi DPR RI pada 2029, Demokrat Perkenalkan AHY Lewat Buku
“Saya termasuk orang yang suka memberikan masukan kepada beliau. Alhamdulillah, Mas AHY mencatat dan langsung mendelegasikan agar di tindaklanjuti oleh tim-timnya,” kata Dede saat menghadiri diskusi dan bedah buku kepemimpinan AHY di Canz Cafe, Jalan Terusan Bojongsoang, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (30/10/2026).
Menurut Dede, respons tersebut menjadi salah satu indikator kepemimpinan yang baik. Sebab, keterbukaan terhadap kritik harus di buktikan dengan tindakan, bukan sekadar sikap menerima pendapat orang lain.
“Menurut saya, itu salah satu respons pemimpin yang baik. Jadi, pemimpin yang baik adalah mencatat dan follow up,” ujarnya.
Dede yang mengaku telah cukup lama mengenal AHY juga mengapresiasi penerbitan buku kepemimpinan tersebut. Terlebih, buku itu ditulis oleh 27 anak muda yang menyampaikan persepsi masing-masing terhadap sosok AHY.
Ia menilai, karya yang di tulis oleh orang lain memberikan perspektif berbeda di bandingkan buku yang di tulis langsung oleh tokoh bersangkutan.
“Saya belum baca bukunya. Tetapi dari cara penyajian yang di sampaikan Bang Zaki, ada 27 penulis anak-anak muda yang memberikan persepsinya. Kalau orang lain yang menulis, kita bisa melihat orisinalitas sudut pandang dari para penulis tersebut,” tuturnya.
BACA JUGA:
Sesuai Arahan Ketum AHY, DPC Demokrat Garut Konsolidasi Internal-Eksternal
Dede mengatakan, sejumlah penilaian dalam buku tersebut kurang lebih sejalan dengan pandangannya terhadap AHY selama mengenalnya secara pribadi.
Karena itu, ia menilai buku tersebut layak dibaca kalangan muda. Terutama untuk mengenal karakter kepemimpinan melalui pengalaman dan sudut pandang sejumlah penulis.
Diskusi dan bedah buku yang digelar Sinergi Generasi Muda tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari kalangan politik, akademisi, dan pegiat pemikiran.
Forum ini menjadi ruang untuk membahas kepemimpinan AHY sekaligus menggali perspektif generasi muda terhadap figur pemimpin nasional.
(Kusnad)



