spot_imgspot_img
Rabu 21 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bio Farma Raih Primaniyarta ke-12

BANDUNG,FOKUSJabar.id: PT Bio Farma (Persero) kembali meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat Free Trade Agreement (FTA) dari Kementerian Perdagangan.

Penghargaan ini menjadi yang ke-12 bagi perusahaan farmasi milik negara tersebut sejak 2010, sekaligus memperkuat rekam jejaknya di pasar internasional.

Penghargaan tersebut diterima langsung Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, dalam kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41. Di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Rabu (14/10/2026).

Baca juga: 11 Polisi Terluka dalam Penyerangan Truk di Bandung

Capaian ini tidak terlepas dari kontribusi Bio Farma terhadap ekspor nasional. Sepanjang periode 2021–2025, nilai ekspor kumulatif perusahaan tercatat lebih dari Rp10 triliun. Produk vaksin Bio Farma juga telah digunakan di lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi perusahaan. Untuk terus meningkatkan daya saing produk kesehatan Indonesia di pasar global.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis. Serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” kata Fitri dalam keterangan yang diterima Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, pengembangan pasar internasional akan terus dilakukan melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, dan penguatan kolaborasi lintas negara.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekspor secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia.

“Kami berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memberikan kontribusi nyata. Dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia,” katanya.

Bio Farma telah memasuki pasar internasional sejak 1997. Hingga kini, perusahaan tersebut tercatat telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin untuk mendukung program imunisasi di berbagai negara.

Bio Farma memiliki kapasitas produksi mencapai 3,1 miliar dosis per tahun dan portofolio 20 produk. Yang telah memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kategori Eksportir Pemanfaatan FTA

Produk ekspornya mencakup vaksin bakterial dan viral, termasuk vaksin polio dan campak, serta bahan aktif vaksin atau vaccine drug substances.

Kategori Eksportir Pemanfaat FTA diberikan kepada eksportir yang secara konsisten memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas. Untuk meningkatkan ekspor dan memperluas akses pasar internasional.

Bagi Bio Farma, pemanfaatan FTA menjadi bagian dari strategi pengembangan pasar global dan penguatan kemitraan dengan berbagai negara.

Penghargaan Primaniyarta 2026 ini melanjutkan capaian perusahaan pada TEI ke-40 tahun 2025. Saat itu, Bio Farma menerima penghargaan Primaniyarta kategori Lifetime Achievement Award dan menjadi satu-satunya badan usaha milik negara (BUMN). Yang menerima penghargaan tersebut.

Selain memperluas pasar ekspor, Bio Farma terus mengembangkan kapabilitas dan penguasaan teknologi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan nasional.

Salah satu produk yang dikembangkan adalah Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat yang pengembangannya mencakup kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis. Serta evaluasi regulator hingga memperoleh persetujuan pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pengembangan Bio-TCV menjadi bagian dari upaya memperkuat penguasaan teknologi konjugasi dan meningkatkan kapasitas produksi vaksin nasional. Bio Farma juga berupaya menjaga ketersediaan produk, memperluas akses masyarakat, serta menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga kompetitif.

Mengembangkan Bio-RV

Selain itu, Bio Farma mengembangkan Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI). Vaksin tersebut telah memperoleh nomor izin edar dari BPOM pada 2 September 2026.

Pengembangan Bio-RV melibatkan penelitian, uji praklinis dan klinis, alih teknologi. Serta penyiapan manufaktur di Indonesia melalui kerja sama dengan akademisi nasional dan mitra global.

Penguasaan proses pengembangan dan manufaktur vaksin di dalam negeri diharapkan dapat memperkuat ketersediaan dan keberlanjutan pasokan vaksin. Sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Pengembangan Bio-TCV dan Bio-RV juga mencerminkan upaya Bio Farma menghubungkan kolaborasi riset, penguasaan teknologi, dan produksi. Untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.

Dalam penyelenggaraan TEI ke-41, Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan, nilai transaksi perdagangan mencapai 17,5 miliar dolar AS. Meningkat dibandingkan target tahun sebelumnya sebesar 16,5 miliar dolar AS.

Baca Juga: Tugu Simpang Lima jadi Sasaran Vandalisme Pendemo

“Kami berharap capaian transaksi dagang Trade Expo Indonesia sesuai target, bahkan mudah-mudahan melebihi target,” kata Budi Santoso.

Sebagai BUMN di bidang life science yang menjadi bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma berkomitmen memperkuat daya saing global. Sekaligus mendukung kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional.

Perusahaan terus mendorong penguatan tata kelola, pengembangan kapasitas, inovasi, serta kolaborasi yang menghubungkan riset, produksi, distribusi. Dan layanan kesehatan untuk mendukung ketersediaan produk kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru