PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Ribuan warga memadati Pangandaran Icon Carnival yang menampilkan beragam kostum, kesenian, dan replika karya seni khas daerah, Senin (19/10/2026).
Iring-iringan peserta bergerak dari Central Parking Pangandaran menuju kawasan Pangandaran Sunset di Pantai Barat. Peserta berasal dari 93 desa, 10 kecamatan, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga kelompok masyarakat.
Sepanjang rute, peserta mengenakan kostum dengan corak khas wilayah masing-masing dan membawa replika ikon daerah. Sejumlah kelompok juga menampilkan kesenian tradisional untuk memperkenalkan identitas budaya Pangandaran.
Baca Juga: Dinda Aulia Anak Hilang di Kalipucang Pangandaran Pulang Selamat
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Benjang Batok dari Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. Kesenian yang dimainkan kaum perempuan ini menggunakan tempurung kelapa sebagai alat musik berirama.
Penampilan Benjang Batok di karnaval ini menjadi spesial setelah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia 2026 pada Kamis (3/9/2026).
Kesenian ini berasal dari Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa. Dimainkan dengan memukulkan tempurung kelapa tua yang dibentuk menyerupai mangkuk, diiringi gerakan dan lenggokan tubuh penari mengikuti irama.
Kepala Desa Kertayasa, Abdul Rohman, mengatakan Benjang Batok sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Kesenian itu digunakan untuk mengelabui penjajah agar laki-laki dewasa bisa bersembunyi dari kerja paksa.
Sejak Penjajahan Jepang
“Benjang Batok sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang dan digunakan sebagai alat untuk mengelabui para penjajah agar para suami atau laki-laki dewasa dapat bersembunyi untuk menghindari kerja paksa,” ujar Abdul di sela arak-arakan.
Nama Benjang Batok berasal dari bahasa Sunda, yakni ngabebenjo anu nganjang yang berarti memuliakan tamu yang datang.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan, Pangandaran Icon Carnival merupakan rangkaian Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran dengan tema “Ngahiji dina Drasa, Ngawujud dina Karya, Mawa Pangandaran Melesat Nepi ka Jaya”.
Menurut Citra, karnaval menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan ide, gagasan, dan kreativitas dalam bentuk karya nyata.
Baca Juga: Jamtani Soroti Krisis Regenerasi Petani Saat Hari Pangan Sedunia
“Ini ide, gagasan, kreativitas, kebersamaan yang menjadi suatu bentuk kreasi. Nanti kita lihat langsung,” ujar Citra.
Ia menyebut Pangandaran sudah memiliki potensi wisata alam berupa pantai dan sungai, namun masih membutuhkan daya tarik lain untuk mendatangkan wisatawan.
“Kita sudah punya pantai indah, sungai indah, tapi masih perlu hal yang bisa menarik wisatawan,” katanya.
(Sajidin)



