PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Kesiapsiagaan bencana gempa megathrust di kawasan wisata Pantai Pangandaran memicu sorotan publik. Petugas dan wisatawan tidak menemukan papan informasi kewaspadaan tsunami di sepanjang bibir Pantai Barat maupun Pantai Timur.
Pemerintah daerah belum memasang papan edukasi bencana pada area strategis tempat kumpul wisatawan.
Padahal, informasi mitigasi bencana sangat penting untuk keselamatan pengunjung saat situasi darurat.
Seorang warga Pangandaran, Asep (45), menyayangkan kelalaian fasilitas edukasi kebencanaan di kawasan pantai.
“Ya harusnya ada papan informasi untuk memberikan edukasi kepada pelaku usaha maupun wisatawan agar paham bagaimana cara evakuasi,” ujar Asep di Pantai Barat Pangandaran, Selasa (13/10/2026).
Kenaikan Risiko Tanpa Edukasi Jelas
Asep menilai penataan mitigasi bencana tidak cukup sekadar mengandalkan tiang petunjuk evakuasi semata.
Pemerintah wajib memberikan panduan langkah penyelamatan diri saat ancaman gelombang tsunami menerjang.
“Kalau pemerintah santai-santai saja, bagaimana kalau terjadi tsunami? Mungkin bisa jadi banyak korban seperti tsunami 2006 lalu,” katanya.
Pantauan lapangan menunjukkan beberapa rambu petunjuk evakuasi di Pantai Barat dan Pantai Timur mengalami kerusakan.
Petunjuk jalan mengarahkan orang menuju area eks Pasar Wisata serta kawasan Cagar Alam Pangandaran.
Kondisi tersebut memicu keraguan warga mengenai keamanan lokasi tujuan evakuasi.
“Untuk evakuasi ke eks Pasar Wisata, apakah memungkinkan untuk menjadi tempat evakuasi?” ucap Asep.
Rekomendasi Evakuasi Menuju Wilayah Pegunungan
Asep meminta pemerintah daerah meninjau ulang kelayakan lokasi evakuasi berdasarkan ketinggian wilayah.
Warga menyarankan area pegunungan tinggi sebagai lokasi tempat kumpul aman dari empasan gelombang. Terlebih Desa Pagergunung dapat menjadi alternatif terbaik untuk lokasi penyelamatan diri.
“Ya bagusnya daerah pegunungan seperti wilayah Desa Pagergunung bisa jadi rekomendasi untuk tempat evakuasi. Kan tempatnya tinggi,” pungkasnya.
(Sajidin)



