spot_imgspot_img
Kamis 8 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Akan Lahiran, Ibu Hamil Ditolak RS Mitra Idaman Banjar

BANJAR, FOKUSJabar.id: Seorang ibu hamil kembar bernama Rini Marini warga Desa Jajawar, Kecamatan Banjar di tolak di Rumah Sakit Mitra Idaman Kota Banjar, Jawa Barat. 

Kisah pilu ini terjadi pada malam 3 Oktober 2026 dan tak akan dilupakan oleh Rini Marini yang berusia 40 tahun. Dalam kondisi hamil bayi kembar, ketubannya pecah sebelum usia kehamilan mencapai 37 pekan.

Rini segera mencari pertolongan. Rumah sakit yang ditujunya yakni RS Mitra Idaman, tempat ia selama ini rutin memeriksakan kehamilannya. 

Baca Juga: Bawaslu Kota Banjar Juara 1 Pendidikan Pengawas Partisipatif

Namun, menurut pengakuan Rini, pertolongan yang diharapkannya tidak datang seperti yang ia bayangkan. Ia mengaku di tolak pihak RS Mitra Idaman dan diminta menuju RSUD Kota Banjar.

“Saya datang ke Mitra Idaman karena dari awal kehamilan memang kontrol di sana,” kata Rini saat menceritakan pengalaman pahitnya Kamis (8/10/2026).

Kehamilan Rini bukan kehamilan biasa. Ia mengandung bayi kembar dan telah menjalani pemeriksaan rutin. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada 22 September 2026.

Saat pemeriksaan tersebut, Rini mengaku sempat menanyakan kemungkinan persalinan lebih awal karena kondisi tubuhnya semakin berat. Ia juga menyebut tekanan darahnya mulai meningkat.

Menurut Rini, petugas saat itu menyarankan agar segera datang ke rumah sakit apabila dirinya mengalami tanda-tanda akan melahirkan.

Kekhawatiran itu menjadi kenyataan pada 3 Oktober malam. Ketuban Rini pecah. Ia kemudian dibawa menggunakan mobil milik kepala desa atau lurah setempat. Bersama suami dan seorang tetangga, Rini menuju RS Mitra Idaman.

Ia datang dengan membawa catatan pemeriksaan kehamilan yang selama ini dilakukan di rumah sakit tersebut.

“Saya bilang, ‘Bu, saya hamil kembar’,” ujar Rini.

Menurut Rini, petugas kemudian menanyakan apakah dirinya menggunakan BPJS atau membayar secara umum. Ia menjawab menggunakan BPJS Kesehatan kelas 3.

Setelah itu, Rini mengaku mendapat informasi bahwa ruangan penuh. Namun, menurut dia, petugas juga masih menanyakan sejumlah data keluarga, termasuk usia anak – anaknya.

Kondisi Semakin Memburuk

Bagi Rini, pertanyaan tersebut terasa berat karena saat itu kondisi tubuhnya semakin memburuk. Ia menyebut tekanan darahnya mencapai 190/108.

“Saya sudah bilang saya hamil kembar. Tensi saya 190. Saya takut pembuluh darah saya pecah atau saya kejang,” katanya.

Menurut pengakuannya, pihak RS Mitra Idaman kemudian menyarankan agar dirinya dibawa ke RSUD Kota Banjar. Rini mengaku sempat meminta pihak rumah sakit menghubungi RSUD terlebih dahulu untuk memastikan dirinya bisa segera mendapat penanganan.

Namun, menurut Rini, permintaan tersebut tidak dilakukan. Ia akhirnya kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju RSUD. Jarak yang ditempuh hanya beberapa menit.

Namun, kondisi Rini ketika itu semakin kritis. Ketuban telah pecah. Bahkan, menurut Rini, kaki bayi kedua sudah mulai keluar.

Setibanya di RSUD Kota Banjar, suami Rini bergegas meminta pertolongan. Petugas kemudian datang dan mengevakuasi Rini dari mobil. Proses evakuasi sempat berlangsung tidak mudah karena kendaraan yang digunakan berukuran kecil. Begitu berhasil dievakuasi, Rini langsung diperiksa.

Hasil pemeriksaan menunjukkan pembukaan persalinan sudah mencapai tujuh. Bayi pertama akhirnya lahir dengan selamat. Namun, Rini masih harus menghadapi persalinan bayi kedua.

Menurut Rini, posisi bayi kedua membuat proses persalinan semakin menegangkan. Salah satu kaki bayi disebut sudah keluar terlebih dahulu.

Di tengah kondisi tersebut, persalinan tetap berlangsung.Bayi kedua akhirnya lahir dengan selamat.Rini menyebut berat kedua bayinya masing-masing sekitar 2,9 kilogram dan 3,9 kilogram. Keduanya, kata dia, tidak harus menjalani perawatan di ruang NICU. “Alhamdulillah semuanya selamat,” ujarnya.

Lahirkan Bayi Kembar

Namun, setelah melahirkan dua bayi tersebut, kondisi Rini justru semakin memburuk.Ia mengalami pendarahan dan kejang hingga tidak sadarkan diri.

Menurut Rini, pihak rumah sakit kemudian menyampaikan kepada keluarganya bahwa dirinya datang dalam kondisi kritis.

Pengalaman tersebut membuat Rini mempertanyakan bagaimana pasien dalam kondisi kegawatdaruratan seharusnya mendapatkan pertolongan. Ia merasa persoalan administrasi maupun pembiayaan semestinya tidak mengalahkan kebutuhan pasien untuk segera mendapat tindakan medis.

“Masalah uang bisa dicari. Tapi tiga nyawa tidak bisa dibeli,” kata Rini.

Bagi Rini, tiga nyawa yang dimaksud adalah dirinya dan dua bayi yang dikandungnya.Ia bersyukur kedua anaknya lahir selamat. Ia bahkan menyebut pengalaman tersebut sebagai mukjizat.

Baca Juga: Femme Fun Run 2026 Banjar Dongkrak UMKM Lokal

Namun, pengalaman itu juga membuatnya menyampaikan pesan kepada rumah sakit dan pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali dialami ibu hamil lainnya.

“Saya cuma ingin ke depannya jangan terulang lagi. Tolong kasih tindakan. Jangan seperti saya,” ujar Rini.

Ia berharap ibu hamil yang datang dalam kondisi darurat dapat segera memperoleh pertolongan, tanpa harus mengalami kebingungan berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

(Agus Purwadi) 

spot_img

Berita Terbaru