TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Masyarakat Kampung Bojongkawung Desa Cintawangi memegang teguh mitos pohon aren. Warga meyakini tanaman aren hanya tumbuh dari kotoran musang (careuh).
Ketua KPP Kawung Wangi Karta menilai mitos ini sebagai bentuk kearifan lokal. Tradisi ini menjaga harmoni alam sejak zaman dahulu.
Baca Juga: Yonif TP 939/Macan Putih Terjunkan Truk Tangki Air Bersih ke Tasikmalaya
“Musang dianggap membantu menyebarkan biji aren ke tempat-tempat yang sulit dijangkau manusia,” kata Ketua KPP Kawung Wangi Karta, Sabtu (3/10/2026).
Wakil Ketua KPP Kawung Wangi Dadan menekankan pentingnya pesan moral narasi tersebut. Cerita ini terbukti efektif menjaga kelestarian hutan dan satwa liar.
Fakta Ilmiah Penanaman Pohon Aren Mandiri
Pakar kawung Ir. Yoyo Budiman menjelaskan faktor biologis pertumbuhan aren. Pohon aren membutuhkan kelembapan tanah, air, suhu, dan kualitas biji yang baik.
“Artinya, pertumbuhan aren tidak mutlak harus berasal dari kotoran hewan. Pembuktian nyata ini telah dilakukan oleh KPP Kawung Wangi selama dua tahun terakhir,” katanya.
KPP Kawung Wangi telah sukses membudidayakan aren secara mandiri. Mereka membangun demplot percontohan seluas satu hektar di kawasan Rancalele.
Kolaborasi Mahasiswa KKN STAIMU dan Petani Lokal
Mahasiswa KKN STAIMU ikut mengkaji fenomena ini bersama KPP Kawung Wangi. Humas KKN STAIMU Yandra Nurrahman menyebut mahasiswa mengkaji mitos ini secara ilmiah.
“Mengkaji Mitos secara kritis berdasarkan ilmu pengetahuan, tetapi tetap menghargainya sebagai warisan budaya lokal yang sarat makna,” ujar Yandra.
Kolaborasi ini mengubah mitos musang menjadi gerakan konservasi modern. Gerakan ini kemudian juga menjembatani kearifan lokal dengan kebutuhan ekologi masa kini.
Tantangan Kelestarian dan Masa Depan Industri Aren
Pohon aren menghadapi tantangan regenerasi lambat dan alih fungsi lahan. Profesi penyadap nira juga makin sepi minat dari generasi muda.
Ketua Dewan Pembina KPP Kawung Wangi Agung Ilham Setiadi mengingatkan ancaman krisis bahan baku gula aren. Kemudian phaknya mendorong perlindungan pohon induk serta peningkatan nilai tambah produk olahan.
“Boleh mengkaji Mitos, tetapi pesan penting di baliknya tetap relevan: alam harus kita jaga agar terus memberi kehidupan,” kata Yandra Nurrahman.
(Abdul Latif)



