MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: HMI Cabang Majalengka bersama Ekraf dan tim kreatif lokal menginisiasi forum Simposium Mini (SIMPONI) sebagai panggung kebebasan berekspresi. Berlangsung di Majalengka Creative Center, kegiatan bertema “Bersuara Tanpa Harus Serupa” ini menyedot perhatian berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas olahraga, mahasiswa, akademisi, hingga tokoh agama.
Para peserta menghidupkan suasana melalui orasi, mimbar bebas, pertunjukan musik, baca puisi, dan pameran karya kreatif. Grup TilllU turut memberikan penampilan spesial, disusul sesi renungan bersama Pembina Majelis Duta Hijrah, Al-Habib Al Ridhio Al-Kaff.
Baca Juga: Mantan Kapolres Majalengka Jadi Kapolri, Ini Harapan Bupati Eman Suherman
Sekretaris HMI Cabang Majalengka, Fiqih Mulia Aqasah, mengonfirmasi bahwa gagasan SIMPONI berawal dari refleksi mendalam atas peristiwa G30S/PKI yang mereka kaitkan dengan isu kebebasan berekspresi masa kini.
“Kami mencoba mencari akarnya. G30S/PKI itu apa yang kita pahami masing-masing? Salah satunya adalah kebebasan berekspresi. Makanya dibuatlah simposium ini sebagai ruang pertemuan berbagai orang,” kata Fiqih kepada Fokus Jabar, Jumat (2/10/2026).
Titik Nol Pertemuan Lintas Komunitas
Fiqih menegaskan bahwa forum ini tidak bertujuan menyorongkan homogenitas pandangan. Panitia justru memberi kebebasan penuh kepada setiap individu untuk melempar gagasan sesuai latar belakang masing-masing.
“Gerakannya memang membebaskan. Yang penting pertama bersuara dulu. Tidak harus menyatukan dalam satu tema tertentu,” ujarnya.
Ia menandai gelaran perdana SIMPONI ini sebagai titik nol—sebuah pijakan awal untuk menghimpun seluruh pemangku kepentingan sebelum melangkah ke diskusi yang lebih spesifik.
“Kita mulai dari nol dulu dengan berbagai macam latar belakang. Setelah itu, baru kita berbicara tentang berbagai hal, apakah itu struktur, literasi, kebudayaan, seni dan segala macam,” katanya.
Strategi Belanja Isu untuk Pembangunan Daerah
Usai merampungkan edisi perdana, penyelenggara akan melanjutkan agenda SIMPONI ke tahap berikutnya. Pada seri “titik satu”, forum akan berfokus mengupas isu literasi sebelum merambah topik sosial, budaya, ekonomi kreatif, hingga isu strategis daerah.
“Targetnya adalah terjaring berbagai komunitas, sehingga menciptakan satu produk kerja sama atau kolaborasi dalam bentuk kegiatan. Baru kemudian ditentukan temanya. Apakah tentang kemanusiaan, sosial, politik, ekonomi kreatif, seni budaya, literasi dan segala macam,” ujar Fiqih.
Ia mengibaratkan proses ini sebagai langkah belanja isu guna menjaring permasalahan krusial yang perlu penyelesaian bersama.
“Kita akan melakukan belanja isu, kemudian sampai kita benar-benar bisa berbicara tentang isu daerah,” katanya.
Inisiator SIMPONI berkomitmen menjaga keberlanjutan ruang kolaborasi ini secara terbuka. Fiqih menekankan pentingnya kesiapan pemuda sebelum menuntut peran pemerintah.
“Intinya berbagai upaya kolaborasi. Sebelum pemerintah daerah berbicara tentang memfasilitasi, anak-anak muda juga harus siap terlebih dahulu dalam aktivitas dan produktivitasnya,” kata Fiqih.
Ke depan, pengelolaan SIMPONI bersifat fleksibel dan lintas organisasi, sehingga komunitas mana pun dapat mengambil peran sebagai penyelenggara.
(Jilly Ortega)



