GARUT, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi peresmian pembangunan ruang kelas serta toilet berbahan dasar sampah plastik yang di inisiasi Yayasan Bakti Barito di SDN 3 Sukanegla, Rabu (30/9/2026).
Sekda Garut, Nurdin Yana mengungkapkan rasa syukur atas kepedulian Yayasan Bakti Barito yang bekerja sama dengan Star Energy dalam membantu penyediaan infrastruktur pendidikan.
BACA JUGA:
35 Celengan Anak TK Aisyiyah 1 Cibatu Garut Disikat Maling
Ia juga memastikan struktur bangunan kelas baru tersebut aman, kuat dan kokoh karena menggunakan sistem penguncian menyerupai balok lego yang di perkuat dengan pipa di bagian tengahnya.
“Saya kira ideal kalau lihat ada 4 produk yang sangat baik, kuat seperti lego. Jadi antara (blok) terkunci, sehingga bangunan ini InsyaAllah kuat,” kata Sekda.
Duta Besar (Dubes) Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng memuji langkah inovatif tersebut.
Dia menyebut, langkah ini sebagai edukasi dini bagi anak-anak untuk memahami pentingnya daur ulang sejak di sekolah hingga di terapkan di lingkungan keluarga.
“I think we have make it achievable ya. You saw the demonstration from the children, how to recycle. I think its important to start from that (Menurut saya, kita sudah membuatnya bisa di capai. Tadi kamu lihat kan demonstrasi dari anak-anak tentang cara mendaur ulang. Ini penting untuk mulai dari situ),” ucapnya.
Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu menegaskan, pembangunan fasilitas sekolah dari sampah plastik tidak akan berjalan optimal tanpa kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, persoalan sampah dan perubahan iklim memerlukan gerakan bersama yang melibatkan sektor swasta, lembaga pendidikan, masyarakat hingga pemerintah.
“Kita need to collaborate with all stakeholders. Dari CSR masing-masing perusahaan, dari sekolah, rumah tangga dan juga pemerintah, supaya pilot project ini sukses,” tuturnya.
Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari menambahkan, inisiatif tersebut berawal dari kebutuhan SDN 3 Sukanegla yang kekurangan ruang kelas akibat jumlah siswa yang terus bertambah.
Rencana pembangunan sebelumnya juga sempat tertunda karena beberapa kali terdampak gempa bumi.
BACA JUGA:
Lawung Lingkung 2026 Garut Dihadiri Menteri Lingkungan Hidup RI
Dari kebutuhan tersebut, yayasan berkolaborasi dengan para mitra melalui program Green Guardians untuk pendidikan perubahan iklim.
Salah satu wujudnya adalah menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat di saksikan langsung oleh anak-anak. Sehingga mereka memahami bahwa sampah memiliki nilai guna.
“Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya dari sampah. Artinya, sampah itu sesuatu yang bernilai. Dari pemikiran itulah kita bekerja sama dengan para mitra, membangun sekolah dari sampah yang bernilai rendah. Sampah yang selama ini ada di TPA dan atau bocor ke laut,” katanya.
Proyek tersebut berhasil mengumpulkan total 18 ton sampah plastik bernilai rendah yang selama ini luput dari pengelolaan pemulung.
Sebelum memulai konstruksi, pihak yayasan memastikan aspek keamanan dan kekuatan bangunan telah di uji.
Mereka menggandeng Universitas Garut serta laboratorium Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melaksanakan serangkaian uji laboratorium guna mendapatkan izin resmi pembangunan sekolah.
“Sebelum kita membangun tentunya kita melakukan uji laboratorium bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR,” ungkapnya.
Selain ramah lingkungan dan kokoh, Dian menegaskan bahwa biaya produksi material tersebut di upayakan setara dengan bahan bangunan konvensional.
“Nah kita harapkan dengan ongkos produksi yang setara dengan konvensional dengan yang sekarang sudah ada, kita berharap bahwa ini bisa di gunakan oleh masyarakat secara luas,” lanjutnya.
Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus menyampaikan terima kasih atas bantuan dua ruang kelas baru dan dua toilet tersebut.
Sebelumnya, pihak sekolah sempat memberlakukan sistem kelas pagi dan siang akibat keterbatasan ruang dan jumlah siswa yang mencapai 196 orang.
“Dan akhirnya ketika kami mengikuti arahan dari Yayasan Bakti Barito menjadi Sekolah Adiwiyata, Alhamdulillah kami terbantu dengan dua kelas baru dan juga dua toilet,” ucapnya.
Fitri menjelaskan, keterlibatan sekolah bermula dari keikutsertaan dalam program pendampingan Sekolah Adiwiyata oleh Yayasan Bakti Barito.
Melalui pembinaan terkait pengolahan sampah dan setelah melihat prestasi sekolah yang di nilai baik, pihak yayasan menawarkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas baru.
(Bambang Fouristian)



