PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sekumpulan orang dewasa mendadak memenuhi Saung Leuit Munjul, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (27/9/2026). Mereka berkumpul guna memainkan kembali berbagai jenis permainan tradisional yang mewarnai masa kanak-kanak mereka.
Komunitas Barudak Ulin menginisiasi perhelatan bertajuk ‘Ulin Bareng: Ngubaran Katineung’ ini sebagai ajang pertemuan perdana mereka. Komunitas baru tersebut mengusung misi utama yakni menghidupkan kembali tradisi kaulinan lembur di tengah era digital.
Baca Juga: Jalur Kereta Banjar-Pangandaran Bakal Direaktivasi 2028-2029, Pemprov Jabar Siapkan Dokumen
Penggagas Barudak Ulin, Acep Rifky Padilah, mengungkapkan alasan emosional di balik pembentukan gerakan ini. Ia merasa prihatin saat menyaksikan keponakannya sendiri lebih sering mengurung diri dan terpaku pada layar telepon seluler.
“Keprihatinan ini muncul saat memperhatikan keponakan sendiri. Meskipun masih anak-anak, mereka sangat jarang beraktivitas di luar rumah,” ungkap Acep saat memberikan keterangan di lokasi.
Dorong Aktivitas Fisik dan Sosialisasi Anak Bebas HP
Acep menegaskan bahwa arena bermain di luar rumah bersama teman sebaya menyajikan manfaat besar. Aktivitas ini tak sekadar memberikan hiburan, tetapi juga membentuk wadah sosialisasi alami serta melatih ketangkasan fisik anak.
Atas dasar itulah, Acep merangkul rekan-rekannya untuk mempraktikkan kembali permainan masa kecil mereka. Langkah awal ini menjadi fondasi sebelum mereka menerapkannya langsung kepada generasi muda.
Pihak panitia menyiapkan tiga jenis permainan klasik dalam agenda perdana tersebut, yaitu pecle, gobak sodor, serta oray-orayan. Namun akibat keterbatasan durasi acara, para peserta baru sempat menjajal satu permainan saja.
Kejujuran Orang Dewasa: Permainan Masa Kecil Ternyata Cukup Menantang
Aksi menggelitik terjadi saat para peserta dewasa ini mulai bergerak di arena permainan. Permainan yang terasa sangat mudah sewaktu kecil ternyata menuntut penyesuaian fisik yang cukup keras saat mereka mainkan kembali di usia dewasa.
Mereka harus memutar ingatan untuk mengingat aturan main, memoles kembali refleks tubuh, serta melatih keseimbangan. Gerakan melompat, mengambil objek, hingga melempar benda menjadi tantangan tersendiri bagi tubuh mereka.
“Kami cukup kewalahan mengeksekusi gerakan-gerakan yang sewaktu kecil sangat kami kuasai. Kendati demikian, suasananya sangat seru dan melatih kembali keterampilan lama kami,” aku Acep penuh tawa.
Kampanye Bertahap Demi Selamatkan Generasi Muda dari Game Online
Kegiatan awal ini sengaja berfokus pada orang dewasa dan belum melibatkan anak-anak secara langsung. Menariknya, sejumlah anak yang menonton di sekitar lokasi bahkan mengaku asing dan tidak mengenali jenis permainan yang sedang berlangsung.
Kondisi tersebut makin memantapkan tekad Komunitas Barudak Ulin untuk bergerak lebih masif. Mereka menjadwalkan agenda permainan tradisional ini secara rutin dengan merangkul partisipasi aktif anak-anak di wilayah Pangandaran.
“Harapan besar kami dapat menularkan kegembiraan bermain ini kepada anak-anak. Kami ingin menyelamatkan mereka dari ketergantungan gadget dan game online,” pungkas Acep.
(Saijidin)



